Masa Depan Ikhwanul Muslimin

Panasnya suhu politik di kalangan Ikhwanul Muslimin di Mesir sekarang ini banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Paling tidak ada dua kategori kelompok yang concern terhadap perkembangan terakhir Ikhwanul Muslimin, khususnya terkait pemilihan Mursyid Am (pimpinan tertinggi Ikhwan) yang akan menggantikan Dr. Mahdi Akif yang akan berakhir Januari 2010 ini.

Kelompok pertama, yang mengharapkan Ikhwan sebagai Kubrol Harokah Al-Islamiyah (Gerakan Islam Terbesar) masa kini tetap memiliki program mengembalikan eksistensi umat sampai berdirinya kembali Khilafah Islamiyah.

Kelompok kedua, yang menginginkan Ikhwan tunduk kepada situasi dan kondisi yang berkembang, baik di tingkat lokal, yakni Mesir maupun di tingkat global, sehingga misi pengembalian eksistensi umat yang dirancang pendirinya, As-Syahid Hasan Al-Banna kandas di tengah jalan.

Kelompok kedua ini, paling tidak diwakili oleh pemerintah Mesir sendiri dan berbagai kekuatan dunia lain yang tidak ingin melihat Ikhwanul Muslimin bergerak sesuai manhaj (konsep) dasar yang dirumuskan pendirinya Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-banna rahimahullah.

Tulisan ini tidak bertujuan mengomentari kelompok kedua, akan tetapi terkait dengan kelompok pertama, yakni yang menginginkan Ikhwan tetap diharapkan mampu berperan dalam mengembalikan kejayaan umat Islam yang sudah hilang sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah Usmaniyah yang berpusat di Turkey tahun 1924 di tangan Mustafa Kemal Ataturk.

Background Sejarah

Untuk memahami Ikhwanul Muslimin dengan baik kita perlu memahami situasi dan kondisi umat Islam saat gerakan tersebut didirikan, yakni tahun 1928. Saat Ikhwanul Muslimin dideklarasikan Hasan Al-Banna bersama 6 orang sahabatnya, Khilafah Usmaniyah yang berpusat di Turkey sudah jatuh 4 tahun sebelumnya, yakni 1924.

Kejatuhan Khilafah Islamiyah yang berusia enam abad itu menyebabkan umat Islam benar-benar berada di bawah kendali kaum Kolonialis Barat Kristen dan dominasi konspirasi Yahudi. Dunia Islam tercabik-cabik oleh paham nasionalisme sempit sehingga dengan mudah dikapling (dipetak-petak) oleh kaum penjajah menjadi lebih dari 50 negara, yang sebagiannya hanya berpenduduk ratusan ribu jiwa, seperti sebagian Negara Teluk dan beberapa negara di Asia.

Target kaum penjajah berhasil dengan bangkitnya spirit nasionalisme masing-masing suku dan kabilah yang ada di dunia Islam yang membentang dari Jakarta sampai Maroko.

Nasionalisme telah merusak dan merobek pikiran, tubuh, negeri, ukhuwah Islamiyah dan sekaligus meruntuhkan Negara superpower mereka serta mencabut izzah (kemuliaan) diri mereka sehingga umat Islam di seluruh dunia dengan mudah dijajah dan dikendalikan oleh kaum kolonialis Barat Kristen.

Komentar Amir Faisal (Raja Arab) : Ikhwanul Muslimin adalah pahlawan yang berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan harta mereka.

Yang lebih memprihatinkan lagi, Palestina sebagai tanah suci umat Islam yang ketiga dan kawasan negeri Syam lainnya berhasil pula diduduki oleh Inggris dan direkayasa sebagai cikal bakal Negara kaum Yahudi dengan berkolaborasi dengan negara-negara adidaya saat itu seperti Prancis dan Uni Soviet.

Di tengah situasi seperti itu, tokoh umat Islam dan para ulamanya, termasuk ulama kalangan Al-Azhar sibuk berdebat soal furu’iyah fiqhiyyah (cabang-cabang hukum Islam) seperti qunut dan sebagainya sehingga lupa atau sengaja melupakan masalah-masalah fundamental Islam seperti al-wala' wal baro' (loyalitas dan disloyalitas) terhadap pemimpin yang kafir, jihad melawan penjajah, masalah kemiskinan, kebodohan, penerapan hukum Islam dan sebagainya.

Umat Islam saat itu, tak terkecuali di Mesir sendiri benar-benar ibarat anak ayam kehilangan induknya. Sementara kaum penjajah Barat Kristen semakin menancapkan hegemoninya dengan mengusai semua kekuatan dan potensi umat Islam yang ada. Bahkan hukum Islam yang berabad-abad lamanya menjadi aturan kehidupan dirubah dengan hukum barat sekular dan sebagiannya berdasarkan spirit agama Kristen.

Situasi, kondisi dan semua masalah tersebut merupakan titik tolak keprihatian seorang anak muda yang bernama Hasan Al-Banna. Keprihatinan itu beliau rumuskan dengan sangat baik dan matang dalam sebuah gerakan dakwah yang diberi nama dengan Ikhwanul Muslimin. Lalu Ikhwanul Muslimin dideklarasikan sebagai sebuah gerakan dakwah yang konprehensif, baik pemikiran, konsep maupun program dan aktivitasnya.

Ideologi dan Manhaj Ikhwan

Ada dua hal yang sangat menentukan apakah sebuah gerakan dakwah itu akan menjadi sebuah gerakan yang mendunia dan berumur panjang, atau hanya menjadi gerakan bersifat lokal dan berumur pendek. Pertama, ideologi dan kedua ialah manhaj. Kalau kita lihat gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin, bahwa ideologinya adalah Islam itu sendiri. Yakni, Islam yang berasal dari Allah Ta’ala dan diturunkan untuk seluruh umat manusia, tanpa kecuali.

Hasan Al-Banna bersama pasukan Mujahidin Ikhwanul Muslimin

Hasan Al-Banna dalam tulisanya yang berjudul ”Da’watuna Fi Thaurin Jadid” menjelaskan : “Karakteristik dakwah kita yang sangat spesifik ialah Robbaniyyah ‘Alamiyah (Ketuhanan Allah dan Global). Artinya, dasar yang melandasi semua tujuan kita ialah bahwa manusia harus mengenal Tuhan Pencipta mereka dan dari hubungan ruhaniyah karimah (spiritulaitas mulia) itulah jiwa mereka terangkat dari kebekuan material yang tuli dan keras kepada kesucian kemanusiaan yang mulia dan indah.

Kita, Ikhwanul Muslimin, menyuarakan dari setiap lubuk hati kita : Allahu ghoyatuna (Allah adalah tujuan kami). Sebab itu, target utama dakwah ini ialah bahwa manusia kembali mengingat hubungan ini (hubungan keimanan) yang menghubungkan mereka dengan Allah Tabaraka Wata’ala yang telah lama mereka lupakan.

Karena itu, Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. “Wahai manusia, sembahlah Tuhan Penciptamu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”. (QS.Al-Baqarah ; 21). Dalam keterkunciaannya (hati), maka ini adalah anak kunci yang pertama yang akan membuka gembok-gembok persoalan kemanusian yang beku dan materialistik di kalangan semua umat manusia. Mereka tidak akan menemukan soluisinya dan tidak akan ada perbaikan tanpa kunci ini.”

Hasan Al-Banna memimpin sholat pasukan Mujahidin Ikhwanul Muslimin

Kemudian beliau menjelaskan : ”Adapun dakwah kita bersifat alamiyyah (global), karena ditujukan kepada seluruh umat manusia, karena pada dasarnya semua manusia besaudara; asal mereka satu, bapak mereka satu, keturunan mereka satu dan tidak ada yang melebihkan antara seorang dengan yang lain kecuali hanya taqwallah dan apa yang diberikan kepada sekelompok lain berupa kebaikan dan keutamaan yang banyak”.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan Pencipta-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. Annisa’ : 1)

“Sebab itu, kita tidak mempercayai hubungan yang dibangun di atas dasar kebangsaan (nasionalisme) dan kita juga tidak akan memotivasi hubungan yang dibangun di atas dasar kesukuan dan warna kulit. Akan tetapi, kita akan menyeru kepada persaudaraan yang adil dan penuh kasih sayang di antara manusia”, ujar Al-Banna.

Saat menutup penjelasan “Risalah Ta’lim”, Hasan Al-Banna menjelaskan : “Ini adalah ringkasan dakwah Anda, penjalasan singkat fikroh (ideologi) Anda dan Anda dapat menghimpunkannya dalam lima prinsip: 1. Allahu ghoyatuna (Alah adalah tujuan kami). 2. Ar-Rasulu Qudwatuna (Rasul saw. adalah teladan kami). 3. Al-Qur’anu syir’atuna (Al-Qur’an adalah dasar hukum kami). 4. Al-Jihadu sabiluna (Jihad adalah jalan kami). 5. Asy-syahadatu umniyatuna (Mati Syahid adalah cita-cita kami).

Demikian pula ketika menjelaskan shibghah (format) pemikiran dan ideologi dalam ”Da’watuna Fi Thaurin Jadid”, Hasan Al-Banna menjelaskan : “Kita menginginkan pribadi Muslim, rumah tangga Muslim dan masyarakat Muslim. Akan tetapi, sebelum segala sesuatunya, kita menginginkan tersebarnya fikrah (idoelogi) Islam sehingga mampu mempengaruhi semua kondisi itu dan memformatnya dengan format Islam. Tanpa format Islam, kita tidak akan mencapai apa-apa. Kita ingin mengembangkan fikroh independen yang hanya bersandar atas dasar Islam yang lurus, bukan bersandar atas dasar fikroh tradisional yang menyebabkan kita terikat pada teori-teori Barat dan orientasi berfikir mereka dalam segala sesuatu.”

Terkait dengan manhaj, Ikhwanul Muslimin tidak hanya memiliki manhaj dakwah yang ashil (orisinil) secara konseptual, akan tetapi berhasil merumuskan manhaj amali (konsep praktis) yang aplikatif dan sangat jelas dan mudah untuk dipahami. Menariknya lagi, manhaj amali tersebut dimasukkan ke dalam arkanul bai’ah (komitment dakwah) setiap anggota jamaah Ikhwan pada poin ketiga, yakni AMAL , setelah FAHAM dan IKHLASH.

Untuk pengertian AMAL, Hsalan Al-Banna mejelaskan: “Yang saya maksudkan dengan AMAL itu ialah buah ilmu dan ikhlas. Kemudian Beliau menjelaskan maratib (tingkatan) AMAL itu ada tujuh :

  1. Memperbaiki diri sehingga memiliki 10 karakter mulia (Fisik kuat, akhlak kokoh, wawasan luas, memiliki profesi ma’isyah, aqidah bersih, ibadah benar, mampu mengendalikan syahwat, manajemen waktu baik, urusan teratur dan memiliki tanggung jawab sosial).
  2. Membentuk rumah tangga Muslim sehingga keluarganya menghormati fikrahnya dan konsisten terhadap nilai-nilai Islam.
  3. Mengayomi masyarakat dengan menyebarkan dakwah kebaikan, memerangi keburukan dan kemungkaran serta memotivasi masyarakat terhadap hal-hal yang bermutu.
  4. Memerdekakan tanah air Islam dan membersihkannya dari setiap pengaruh / kekuasaan asing yang tidak Islami, baik politik, ekonomi maupun spiritualitas.
  5. Memperbaiki pemerintahan sehingga menjadi benar-benar Islami. Hanya dengan itulah pemerintah benar-benar mampu menjadi pelayan umat atau pegawai masyarakat.
  6. Mengembalikan bangunan Umat Islam internasional dengan memerdekakan setiap tanah air mereka dan menghidupkan kemuliaannya, menghadirkan budayanya, menghimpun kekuatannya sehingga dengan demikian dapat mengembalikan Khilafah (sistem pemerintahan Islam Internasional) yang hilang dan terjalinnya kesatuan yang diharapkan.
  7. Sokoguru bagi dunia internasional, dengan tersebarnya dakwah Islam di seluruh penjuru bumi sehingga tidak ada lagi kezaliman dan agama ini semuanya milik Allah.”Dan Allah tidak ingin kecuali menyempurnakan cahaya-Nya”. (QS. Attaubah : 32).

Terkait dengan orisinilitas Islam dan syumuliyyatul manhaj (konprehensifitas manhaj), dalam “Risalah Muktmar Al-Khomis”, Hasan Al-Banna menjelaskan : “ Karena itu, saya wakafkan diri saya sejak kecil untuk satu tujuan, yaitu menunjukkan manusia kepada Islam, hakikat dan prakteknya. Sebab itu, fikrah (ideologi) Ikhwanul Muslimin adalah Islam murni, baik dalam tujuannya, maupun sarananya dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan selain Islam.

Untuk lebih mudah dipahami, Beliau mengatakan : “Fikrah Ikhwanul Muslimin itu mencakup semua makna ishlah (reformasi). Sebab itu, dapat disimpulkan dengan : 1) Dakwah Salafiyah. 2) Thariqah Suniyyah. 3)Haqiqah Shufiyyah. 4) Hai-atun siyasiyyah. 5) Jama’ah riyadhiyyah. 6) Rabithatun ilmiyyah tsaqafiyyah. 7) Syirkatun Iqtishadiyyah dan 8) Fikrah Ijtimaiyyah.

Musibah Musyarokah

Situasi yang berkembang sekarang di kalangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, khususnya di kalangan para elitenya, sedikit banyak akan mempengaruhi masa depan gerakan Ikhwanul Muslimin, baik di tingkat lokal (Mesir) maupun di tingkat global (dunia Islam). Sebagai sebuah gerakan dakwah terbesar di Mesir dan tersebar pemikirannya di seluruh penjuru dunia Islam, maka para pemimpin Ikhwanul Muslimin tidak perlu memperlihatkan kondisi internal mereka secara terbuka seperti yang terjadi dua bulan terakhir ini.

Berdasarkan puluhan tulisan dan wawancara para pemimpin Ikhwanul Muslimin yang tersebar di berbagai media dua bulan terakhir ini, kiranya dapat dipahami bahwa mereka sedang mengalami suatu kondisi yang kritis. Kondisi kritis yang dapat menjadi ancaman tersebut datang dari dua kubu yang mereka namakan dengan kubu konservatif dan kubu reformis.

Anehnya, kalau kita lihat apa yang mereka persoalkan itu ternyata hanya sebatas AD dan ART jama’ah, bukan terkait dengan fikroh, manhaj dan program Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah gerakan dakwah yang bertujuan mengembalikan kejayaan umat . Artinya, perkembangan yang ada sekarang lebih bernuansa politis yang sifatnya elitis. Dengan kata lain, saling memperebutkan kepemimpinan organisasi atau jamaah. Hal semacam ini belum pernah terjadi di zaman Umar At-Tilmisani atau Hasan Hudhaibi, apalagi di zaman Hasan Al-Banna.

Seperti yang ditulis oleh Ibrahim Al-Hudhaibi pada Islamoline 03-11-2009 : “Ancaman terbesar yang sedang mengelilingi Ikhwan bukanlah dari pihak keamanan (Mesir). Karena bagaimanapun (pihak kemanan Mesir) tidak akan mampu mempengaruhi pemikiran dan manhajnya. Akan tetapi ancaman terbesar terhadap Ikhwan ialah yang datang dari dalam, yakni saat jamaah Ikhwan sudah menjadi legalitas atas dirinya sendiri dan tidak mau menerima pendapat para Ulama, kecuali yang sesuai dengan agendanya."

Pada akhirnya, agenda-agenda itu akan menjadi aspek legalitas sedangkan para Ulama hanya sarana untuk melayani agenda-agenda itu (tukang stempel). Saat itulah Ikhwan sebenarnya – seperti yang diungkapkan musuh-musuhnya dengan “illegal” – memperalat agama untuk melayani politik, bukan sebaliknya. Semoga hal itu tidak terjadi.”

Sesungguhnya persolaan yang sedang dihadapi Ikhwanul Muslimin di Mesir sekarang adalah persoalan percaturan dikalangan elite internal yang saling memperebutkan kekuasaan organisasi. Sumbernya tak lain adalah ketika, Ikhwan sudah memasuki ranah politik praktis, dan politik sudah menjadi agenda utama, maka secara otomatis membuka peluang saling bersaing tidak sehat. Tarbiyahpun tidak berjalan dengan baik dan efektif. Ditambah lagi faktor lain yang tak kalah dahsyatnya, yaitu tertular virus politik praktis jahiliyah, sehingga dorongan untuk menduduki kekuasaan internal semakin tak terbendung, karena secara otomatis akan dapat mempunyai nilai tawar dan pengaruh politik eksternal, khususnya dengan penguasa dan pemerintah untuk menikmati kue musyarokah. Apalagi Ikhwanul Muslimin adalah gerakan dakwah terbesar yang terlibat politik praktis, sudah pasti memiliki nilai tawar yang tinggi di mata lawan politik mereka.

Fakta membuktikan bahwa sejak IKhwan mendapat angin segar untuk terlibat politik praktis atau musyarokah di akhir 70an dan awal 80an, yakni di mana Presiden Anwar Sadat meniupkan iklim keterbukaan, sejak itulah mulailah bibit-bibit perpecahan di kalangan elitnya tumbuh. Suasana keterbukaan itu mereka sambut dengan istilah musyarokah (koalisi) dengan pemerintah.

Merekapun mendapat jatah beberapa menteri di pemerintahan dan bahkan puluhan tokohnya menjadi anggota parlemen. Persoalannya kemudian ialah, semua potensi jamaah habis digunakan untuk berbagai kegiatan politik praktis seperti pemilu dan sebagainya. Pada waktu yang sama, tarbiyah (kaderisasi) dan program dakwah praktis lainnya, menjadi berantakan dan program perbaikan pemerintah dan masyarakat tak kunjung dapat dicapai.

Sebabnya tidak lain adalah terlena dengan puluhan kursi legislative dan jatah beberapa kursi menteri yang dilandasi penafsiran yang keliru terkait kasus Nabi Yusuf meminta jabatan. Padahal menurut manhaj Ikhwanul Muslimin sendiri, politik itu hanya satu dari 8 pilar gerakan dakwah Ikhwan.

Melihat fakta dan kenyataan tersebut, Mustafa Masyhur tahun 1986 menulis sebuah buku yang diberi judul dengan “Jalan Dakwah, antara Orisinilitas dan Penyimpangan”. Di antaranya beliau menjelaskan : Musyarokah dengan pemerintahan yang tidak berhukum dengan hukum Allah.

Jika terbuka peluang, Musyarokah harus berdasarkan analisa syar'iyyah yang amat teliti. Musyarokah tidak lain hanya langkah yang diperlukan (milestone) untuk menuju sebuah pemerintahan Islam secara menyeluruh. Musyarokah seperti itu tidak masalah asalkan terpenuhi persyaratan yang menjamin terealisasinya tujuan utama dan dengan kesepakatan-kesepakatan yang jelas. Masalah ini tidak boleh diserahkan kepada ijitihad individu (pemimpin).

Jika kesepakatan tersebut diingkari (oleh pihak yang kita bermusyarokah dengannya) atau terjadi pergeseran niat (dari pihak kita), maka musyarokah harus segera ditinggalkan, agar kita tidak terjebak pada tipu muslihat dan memalingkan dari target-target besar kita dan rela hanya dengan jalan tengah (kompromi) tanpa melahirkan solusi yang mendasar dan fundamental.

Kesimpulan

Setelah 30 tahun Ikhwanul Muslimun di Mesir, termasuk juga di Jordania dan beberapa Negara Arab dan Afrika Lainnya terlibat politik praktis. Saatnya Ikhwanul Muslimin mengevaluasi secara total dan teliti maslahat dan mudharat yang didapatkan selama 30 tahun belakangan ini. 30 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Sebagai perbandingan, di bawah kepemimpinan Hasan Al-Banna, 20 tahun cukup bagi Ikhwanul Muslimin untuk mengguncang dunia, sehingga sepak terjang mereka di Mesir dan dunia Arab lainnya wabil khusus di Palestina nyaris mengalahkan pasukan Yahudi yang terlatih dan dapat dukungan dunia internasional. Kalaulah tidak karena kospirasi dan pengkhianatan para pemimpin Arab saat itu, sangat besar peluang Ikhwanul Muslimin memenangkan jihad melawan Yahudi pada 1948 itu.

Sebab itu, musuh Islam sepakat bahwa Hasan Al-banna dan beberapa tokoh Ikhwan lainnya harus dibunuh dan Ikhwanul Muslimin harus diberangus, baik SDM nya maupun asset dan kekayaannya. Maka pada 12 Februari 1949, Al-Banna pun dibunuh sehingga beliau meraih cita-citanya, yakni mati syahid di jalan Allah. Alangkah baiknya jika para petinggi Ikhwan saat ini membuka mata hati dan mata kepala mereka terhadap lembaran putih sejarah mereka, khususnya 20 tahun pertama berdirinya gerakan Ikhwanul Muslimin, agar tidak berkutat pada persoalan kekuasaan internal dan bisa keluar dari conflict interest jangka pendek yang sama sekali bukan ajaran Ikhwanul Muslimin.

Agar evaluasi maslahat dan mudharat, serta kemajuan dan kemunduran dakwah itu adil dan objektif, maka selayaknya alat ukur dan standar yang dipakai dari pemikiran dan konsep dakwah yang dirumuskan oleh pendidrinya, yakni Hasan Al-Banna itu sendiri, bukan dari persoalan AD dan ART-nya, apalagi hanya karena hidden agenda para elitenya. Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat memberikan jawaban yang pasti dan jujur :

  1. Sudah berapa banyak pribadi Muslim yang memiliki 10 karakter mulia terbentuk?
  2. Sudah berapa banyak keluarga Muslim yang mumpuni terbentuk?
  3. Sudah berapa banyak terjadi perbaikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, khususnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya dan sebagainya?
  4. Sudah berapa pula dilakukan Islamisasi hukum dan peraturan dalam pemerintahan selama musyarokah?
  5. Sudah berapa banyak persoalan negeri terbebas dari pengaruh dan dominasi asing, khususnya ekonomi, politik, penididikan, hukum, keamanan, militer dan budaya?
  6. Sudah berapa kuat jalinan dan hubungan antara negeri-negeri Islam dalam merakit kembali kekuatan mengembalikan sistem Khilafah yang hilang sejak 1924?
  7. Sudah adakah secercah cahaya bahwa umat ini secara keseluruhan siap menjadi sokoguru dunia?

Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab dengan positif dan dengan angka yang menggembirakan atau logis, mari kita puji Allah dan ucapkan selamat pada Ikhwanul Muslimin. Namun jika jawabannya negatif, para petinggi Ikhwanul Muslimin perlu segera mengevaluasi diri atas kekeliruan langkah dakwah yang diambil selama 30 tahun belakangan ini.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa para pemimpinnya sedang berada di jalan yang berbeda dengan apa yang digariskan dan dirumuskan Hasan Al-Banna rahimahullah. Saat itulah Allah bukan lagi jadi tujuan. Rasul bukan lagi jadi panutan. Qur’an bukan lagi jadi sumber hukum dan peraturan. Jihad bukan lagi jadi jalan dakwah dan izzatul Islam wal muslimin. Mati syahid bukan lagi jadi cita-cita yang tertinggi.

Sebab itu tidak heran, jika kualitas Jamaah Ikhwan dan pencapaian perjuangan dakwahnya 30 tahun terakhir sangat jauh berbeda dari Ikhwanul Muslimin yang dipimpin Hasan Al-Banna selama 20 tahun pertama sampai Beliau syahid 1948. Semoga menjadi pelajaran bagi gerakan dakwah di negeri ini, khususnya bagi yang mengklaim menjadi penganut gerakan Ikhwanul Muslimin. Allahumma aamiin…

http://www.eramuslim.com/berita/analisa/masa-depan-ikhwanul-muslimin.htm

0 comments:

Muhammad al-Fatih Secrets Revealed!


Bisyarah adalah sebuah kabar gembira yang Allah turunkan kepada ummatnya, baik melalui al-Qur’an ataupun melalui ucapan rasulullah. Bisyarah adalah perlambang janji Allah dan menjadi penyemangat kaum muslim selama berabad-abad lamanya, keyakinan akan janji ALlah ini terpatri kuat di dalam jiwa kaum muslim dan menjadi harapan ditengah-tengah keputusasaan, menjadi pengingat dalam kealpaan dan menjadi sebuah sumber energi yang tidak terbatas sampai kapanpun juga. Dengan bisyarah inilah kaum muslim berjuang dan menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban dunia.

Salah satu bisyarah yang dapan menginspirasi setiap muslim adalah bisyarah rasulullah yang disampakan oleh Abdullah bin Amru pada shahabat:

فقال عبد الله بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه وسلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم أي المدينتين تفتح أولا قسطنطينية أو رومية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم مدينة هرقل تفتح أولا يعني قسطنطينية

Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel) (HR Ahmad)

لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش

Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya (HR Ahmad)

Ini adalah sebuah bisyarah, petunjuk dan kabar gembira bagi kaum muslim bahwa dua pilar peradaban barat pada waktu itu yang dijadikan simbol yaitu: Kota Roma (Romawi Barat) dan Kota Konstantinopel (Romawi Timur) akan diberikan dan dibebaskan oleh kaum muslim.

Dan hal ini menjadi penyemangat para Khalifah untuk melakukan futuhat, tercatat dalam sejarah bahwa Abu Ayyub al-Anshari (44 H) pada Khalifah Muawiyyah bin Abu Sufyan adalah orang yang pertama kali ingin merealisasikan janji Allah tersebut, namun karena kondisi fisik beliau tidak mampu memenuhinya, walaupun begitu, beliau meminta agar jasadnya dikuburkan di bawah kaki pasukan kaum muslim terdepan pada saat ekspedisi itu sebagai sebuah milestone bagi mujahid selanjutnya. Lalu Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (98 H) pada masa Kekhalifahan Umayyah, Khalifah Harun al-Rasyid (190 H) masa Kekhalifahan Abasiyyah, Khalifah Beyazid I (796 H) masa Kekhalifahan Utsmanityyah, Khalifah Murad II (824 H) masa Kekhalifahan Utsmaniyyah juga tercatat dalam usaha penaklukan konstantinopel, tetapi karena satu dan lain hal, Allah belum mengizinkan kaum muslim memenangkan pertempuran itu.

Konstantinopel merupakan salah satu kota terpenting di dunia, kota ini memiliki benteng yang tidak tertembus yang dibangun pada tahun 330 M. oleh Kaisar Byzantium yaitu Constantine I. Konstaninopel memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia. Sejak didirikannya, pemerintahan Byzantium telah menjadikannya sebagai ibukota pemerintahan Byzantium. Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Emas (golden horn) yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Pentingnya posisi konstantinopel ini digambarkan oleh napoleon dengan kata-kata “…..kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!”.

Adalah Muhamamd II atau selanjutnya dikenal sebagai Muhammad al-Fatih, yang akan menaklukan kota ini, sejak kecil dia telah dididik oleh ulama-ulama besar pada zamannya, khususnya Syaikh Aaq Syamsuddin yang tidak hanya menanamkan kemampuan beragama dan ilmu Islam, tetapi juga membentuk mental pembebas pada diri Mumammad al-Fatih. Beliau selalu membekali al-Fatih dengan cerita dan kisah para penakluk, kisah syahid dan mulianya para mujahid, dan selalu mengingatkan Muhammad II tentang bisyarah rasulullah dan janji Allah yang menjadikan seorang anak kecil bernama Muhammad II memiliki mental seorang penakluk.

Maka tidak mengherankan ketika berumur 23 tahun, al-Fatih telah menguasai 7 bahasa dan dia telah memimpin ibukota Khilafah Islam di Adrianopel (Edirne) sejak berumur 21 tahun (ada yang memberikan keterangan dia telah matang dalam politik sejak 12 tahun). Sebagian besar hidup al-Fatih berada diatas kuda, dan beliau tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajjudnya untuk menjaga kedekatannya dengan Allah dan memohon pertolongan dan idzinnya atas keinginannya yang telah terpancang kuat dari awal: Menaklukan Konstantinopel.

Diapun sadar untuk menaklukkan konstantiopel dia membutuhkan perencanaan yang baik dan orang-orang yang bisa diandalkan, maka diapun membentuk dan mengumpulkan pasukan elit yang dinamakan Janissaries, yang dilatih dengan ilmu agama, fisik, taktik dan segala yang dibutuhkan oleh tentara, dan pendidikan ini dilaksanakan sejak dini, dan khusus dipersiapkan untuk penaklukan konstantinopel. 40.00 orang yang loyal kepada Allah dan rasul-Nya pun berkumpul dalam penugasan ini. Selain itu dia juga mengamankan selat bosphorus yang menjadi nadi utama perdagangan dan transportasi bagi konstantinopel dengan membangun benteng dengan 7 menara citadel yang selesai dalam waktu kurang dari 4 bulan.

Tetapi konstantinopel bukanlah kota yang mudah ditaklukkan, kota ini menahan serangan dari berbagai penjuru dunia dan berhasil menetralkan semua ancaman yang datang kepadanya karena memiliki sistem pertahanan yang sangat maju pada zamannya, yaitu tembok yang luar biasa tebal dan tinggi, tingginya sekitar 30 m dan tebal 9 m, tidak ada satupun teknologi yang dapat menghancurkan dan menembus tembok ini pada masa lalu. Dan untuk inilah al-Fatih menugaskan khusus pembuatan senjata yang dapat mengatasi tembok ini.

Setelah mempersiapkan meriam raksasa yang dapat melontarkan peluru seberat 700 kg, al-Fatih lalu mempersiapkan 250.000 total pasukannya yang terbagi menjadi 3, yaitu pasukan laut dengan 400 kapal perang menyerang melalui laut marmara, kapal-kapal kecil untuk menembus selat tanduk, dan sisanya melalui jalan darat menyerang dari sebelah barat konstantinopel, awal penyerangan ini dilakukan pada tanggal 6 April 1453, yang terkenal dengan The Siege of Constantinple.

Keseluruhan pasukan al-Fatih dapat direpotkan oleh pasukan konstantinopel yang bertahan di bentengnya, belum lagi serangan bantuan dari negeri kristen lewat laut menambah beratnya pertempuran yang harus dihadapi oleh al-Fatih, sampai tanggal 21 April 1453 tidak sedikitpun tanda-tanda kemenangan akan dicapai pasukan al-Fatih, lalu akhirnya mereka mencoba suatu cara yang tidak terbayangkan kecuali orang yang beriman. Dalam waktu semalam 70 kapal pindah dari selat bosphorus menuju selat tanduk dengan menggunakan tenaga manusia. Yilmaz Oztuna di dalam bukunya Osmanli Tarihi menceritakan salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium mengatakan:

“kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Alexander yang Agung,”

70 Kapal al-Fatih dipindahkan dari Selat Bosphorus ke Selat Tanduk melalui Pegunungan Galata dalam waktu 1 malam

Pengepungan ini terus berlanjut sampai dengan tanggal 27 Mei 1453, melihat kemenangan sudah dekat, Muhamamad al-Fatih mengumpulkan para pasukannya lalu berkhutbah didepan mereka:

Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran

Subhanallah, ini sebuah penegasan pada pasukannya bahwa kemenangan tidak akan bisa dicapai dengan mengandalkan kekuatan belaka, bukan pula karena kecerdasan dan strategi perang, Muhammad al-Fatih sangat memahami bahwa kemenangan hanya akan tercapai dengan izin dan pertolongan Allah.

Maka ia meminta seluruh pasukannya bermunajat pada Allah, menjauhkan diri dari maksiat, bertahajjud pada malam harinya dan berpuasa pada esok harinya. Pada tanggal 29 Mei 1453, serangan terakhir dilancarkan, dan sebelum Ashar, al-Fatih sudah menginjakkan kakinya di gerbang masuk konstantinopel. Berakhirlah pengepungan selama 52 hari lamanya dan penantian panjang akan janji Allah selama 825 tahun lamanya. Konstantinopel dibebaskan kaum muslim melalui tangan al-Fatih!

Bayangkan, kekuatan seperti apa yang bisa menjaga semangat, persatuan, dan kesabaran selama 52 hari perang dan lintas generasi dalam 825 tahun lamanya? Kekuatan seperti apa yang dapat menjadikan anak muda berumur 23 tahun menaklukan sebuah peradaban besar?

Inilah yang dinamakan kekuatan percaya pada janji Allah dan bisyarah rasul-Nya. Kemampuan melihat tidak dengan mata tetapi dengan keimanan, kekuatan yang melebihi apapun, Beyond the Inspiration.

They believe in something that can’t be seen by eyes! Allahuakbar!

Konstantinopel telah takluk dan itu tidak akan terulang kembali karena posisi yang mulia dalam bisyarah rasulullah telah ditempati oleh Muhammad al-Fatih. Penaklukan kota Roma hanya menunggu waktu dan posisi kemuliaan itupun akan ditempati oleh satu orang. Tetapi ada satu bisyarah lagi yang rasulullah sampaikan pada kita, yang mengajak kita semuanya untuk merealisasikan itu.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”. (HR. Ahmad)

Pragmatisme pasti akan menafikkan Idealisme
Pragmatisme meniscayakan Kompromisme

Sedangkan,
Idealisme menafikkan Pragmatisme
Idealisme meniscayakan Keyakinan akan Bisyarah Allah dan Rasul

Perbedaan orang kafir dan mukmin adalah:
Orang mukmin yakin dahulu lalu mereka (pasti) akan melihat
Orang kafir butuh melihat dulu lalu (mungkin) akan yakin

Pilih mana?!

0 comments: