Wapres Negara Penjajah AS Joe Biden: Mubarak Bukan Diktator, Ia Tidak Boleh Mundur!

Syabab.Com - Kehilangan Mubarak sebagai budak Amerika Serikat sangat berbahaya bagi Amerika Serikat, apalagi bila Islam politik muncul di negeri tersebut. Mubarak yang kini sedang didesak untuk mundur tersebut ternyata seorang antek dan pelayan Amerika. Ini diakui oleh oleh AS sendiri. Wakil Presiden AS Joe Biden berbicara dalam PBS NewsHour mengomentari protes besar-besar untuk menumbangkan Hosni Mubarak.

Komentar Biden rupanya tidak akan diterima dengan baik oleh lawan rezim, di mana AS masih memberikan dukungan yang teguh bagi pemerintah yang ingin mereka tumbangkan.

Puluhan orang tewas sebagai tindak kekerasan keamanan rezim untuk menghadapi para pemrotes. Sejak AS memberikan sekitar $ 1,3 juta untuk bantuan militer ke Mesir setiap tahunnya, jadilah militer Mesir menjadi budak AS. Tindakan represif aparatur negara dilihat oleh banyak orang di Mesir sebagai keeratan mereka dengan AS.

Layanan internet sedang diblokir, termasuk penggunaan pesan singkat melalui ponsel, meskipun Departemen Luar Negeri AS berulang kali menyerukan untuk mengizinkan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter untuk tetap berjalan di Mesir.

Protes besar-besaran yang digelar usai shalat Jumat, menggiring gelombang demonstrasi publik yang belum pernah terjadi sebelumnya pekan ini untuk mengakhiri Mubarak.

Ketika host program NewsHour Jim Leher bertanya kepada Biden jika waktunya telah "datang bagi Presiden Mubarak untuk pergi?", Biden menjawab: "Tidak. Saya pikir sudah saatnya bagi Presiden Mubarak untuk mulai bergerak ke arah yang--untuk lebih responsif terhadap beberapa--kebutuhan orang-orang di luar sana."

Ketika ditanya apakan Mubarak seorang diktator, Biden menjawab: "Mubarak telah menjadi sekutu kita dalam sejumlah hal. Dan dia sangat bertanggung jawab atas itu, kerabat terhadap kepentingan geopolitik di kawan tersebut; mengupayakan perdamaian Timur Tengah, tindakan Mesir yang telah mengambil hubungan terhadap normalisasi hubungan dengan Israel... Saya tidak akan merujuk kepadanya sebagai seorang diktator."

Biden lebih lanjut menyarankan kepada sekutu dekatnya untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dan meminta untuk melakukan dialog dengan para demonstrasi dan memenuhi tuntutan mereka.

Demikianlah, dengan jelas siapa sebenarnya Mubarak yang tidak lebih seorang diktator yang telah didukung oleh Amerika Serikat. Kejahatannya terhadap umat ini berderet dalam waktu yang sangat lama. Umat kini menyadari sang diktator tersebut tidak layak berkuasa. Umat benar-benar menantikan sebuah perubahan, dan perubahan nyata itu hanya ada ketika umat kembali kepada Islam di bawah naungan Khilafah. Tidak akan lama lagi! [m/csmonitor/syabab.com]

0 comments:

Sekaranglah Saatnya…

Dunia telah menyaksikan letusan-letusan yang terjadi di dunia Islam yang tiada bandingnya selama dua minggu terakhir. Kaum Muslim di seluruh dunia mulai dari Pakistan, Tunisia, Mesir, Yaman, Palestina, Yordania dan bahkan hingga Albania telah menunjukkan ketidakpercayaan dan ketidaksetujuan mereka atas penguasa tiran yang dipaksakan atas mereka. Para demonstran itu telah menunjukkan keberanian besar yang terinspirasi oleh kaum Muslim di Tunisia. Demonstrasi-demonstrasi itu telah meletup dari rasa frustasi umat dan pengungkapan yang tulus dari sentimen Islam. Memang, tayangan video dari Kairo begitu memukau, dimana kaum Muslim keluar dari Masjid setelah shalat Jumat sehingga membuat pasukan keamanan kewalahan. Merupakan tanda yang jelas tentang kebaikan atas umat, ketika dunia menyaksikan bahwa polisi anti huru hara memperbolehkan umat Islam untuk melakukan sholat Isya di jalan-jalan, suatu indikasi bahwa aparat keamanan yang menindas umat adalah orang-orang yang sama yang akan melindungi dan membela mereka ketika sentimen Islam muncul.

Suatu tanda bahwa para penguasa tiran di dunia Muslim berebut untuk mendapatkan legitimasi dapat dilihat di Palestina. Dokumen-dokumen dan catatan-catatan pertemuan rahasia yang terungkap dengan jelas menggambarkan bagaimana negara-negara Barat menggunakan PLO untuk menyerahkan sebagian besar Palestina. Semuanya dalam dokumen-dokumen tersebut menekankan bahwa PLO didirikan untuk melegitimasi pengakuan terhadap Israel dan untuk menyerahkan sebagian besar wilayah Palestina. Lebih lanjut, hal itu menunjukkan suatu realitas bahwa tujuan Otoritas Palestina adalah untuk melindungi negara Israel sambil memfokuskan untuk sentimen Islam kaum Muslim di Palestina. Seolah-olah itu belumlah cukup, persekutuan yang rapuh para diktator Arab runtuh di bawah beban kata-kata mereka sendiri, seperti yang diungkapkan oleh dokumen-dokumen yang dirilis baru-baru ini. Ketidakpercayaan dan pengkhianatan satu sama lain kini terungkap.

Di Pakistan, para pengacara yang memprotes penahanan Ketua Mahkamah Agung Chaudry pada tahun 2007 oleh Presiden Pervez Musharraf, adalah orang-orang yang sangat mendukung Malik Mumtaz Hussain Qadri, yang mengaku sebagai pembunuh Salman Taseer, mantan gubernur provinsi Punjab. Dukungan mereka adalah penting karena hal ini menunjukkan sentimen Islam di semua segmen masyarakat Pakistan, dari masyarakat kelas bawah hingga kaum muda dan kaum berpendidikan. Penembakan baru-baru ini oleh seorang diplomat Amerika atas dua warga Pakistan adalah merupakan titik kilas terbaru dalam lanjutan kemarahan kaum Muslim terhadap kehadiran Amerika di wilayah Af-Pak (Afghanistan-Pakistan).

Jelas, apa yang sedang terjadi di Tunisia, Mesir, Yordania, Yaman dan Pakistan menunjukkan keinginan umat Islam atas perubahan. Umat telah menemukan banyak perintah dalam Quran dan Sunnah yang memerintahkan untuk meminta pertanggung jawaban para penguasa mereka dan menahan mereka karena pelanggaran yang mereka lakukan:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS 3:110)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:. “Demi Allah yang nyawaku ditangannya, kamu harus melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, jika tidak Allah akan mengirim hukuman-Nya atas kamu Dan kemudian jika kamu berdoa kepada Nya, Dia tidak akan menjawabnya. “
Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda: “Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang yang berdiri di depan penguasa penindas di mana ia memerintahkan dia dan melarang dia sehingga dia (penguasa itu) membunuhnya.”

Bahkan, umat Islam telah mengambil penguasa mereka sejak Abu Bakar menjadi Khalifah hingga hari ini, tetapi apa yang baru adalah bahwa umat Islam telah secara terbuka berani meminta perubahan terhadap para penguasa mereka. Karena mereka bertindak atas keyakinan Islam mereka, belenggu atas rakyatpun menjadi longgar dan mereka telah mendapatkan kepercayaan diri. Para tiran yang didukung Barat itu harus mengambil pelajaran dari kemarahan umat Islam, karena mereka menuntut pencopotan para tiran itu dan sistem kufur nya yang menghasilkan penindasan atas mereka. Persoalannya bukan untuk menggulingkan tirani individu seperti Ben Ali, Hosni Mubarak, Raja Abdullah, Asif Ali Zardari atau salah satu dari mereka sementara sistem yang mereka pakai untuk memerintah tetap hidup terpelihara. Kebalikannya, semakin sistim-sistim buatan manusia itu dipakai untuk memerintah; semakin menjadikan system-sistim itu menghasilkan para tiran tersebut. Selama 90 tahun terakhir, umat telah merasakan pahitnya nasionalisme, demokrasi komunisme, dan kediktatoran. Sekarang mereka merindukan manisnya Islam. Protes yang terjadi saat ini harus menjadi benih untuk mencabut sistim-sistim buatan manusia dan membuka jalan bagi penegakkan aturan Allah, yakni dengan meletakkan “Khilafah Rashidah ” pada tempatnya.

Hizbut-Tahrir Amerika

Sumber :www.khilafah.com

0 comments:

Kini rakyat Yordania yang menggelar aksi protes melawan pemerintah

AMMAN (Arrahmah.com) - Ribuan orang berkumpul di jalan-jalan utama di Yordania, menuntut perdana menteri negara itu mundur dan pemerintah mengekang kenaikan harga, inflasi dan pengangguran.

Pada Jumat (28/1/2011), sekitar 3.500 aktivis dari kelompok oposisi di Yordania, serikat buruh dan organisasi sayap kiri berkumpul di ibukota, melambaikan spanduk warna-warni bertuliskan : "Kirim orang-orang korup ke pengadilan."

Mereka mengecam Samir Rifai, perdana menteri Yordania dan kebijakannya.2.500 orang lainnya juga turun ke jalan di enam kota lain di seluruh negeri setelah mereka melaksanakan sholat Jumat. Mereka juga menyerukan mundurnya Rifai.

Anggota Front Aksi Islam, sayap politik Ikhwanul Muslimin dan partai oposisi terbesar di Yordania, membengkakkan jajaran pemrotes, massa berkumpul di luar masjid al-Husseini di Amman dan mengisi jalan-jalan pusat kota.

Rifai mengumumkan paket 0 juta untuk subsidi baru dalam dua minggu terakhir untuk bahan bakar dan bahan pokok seperti beras, gula, ternak dan gas cair yang digunakan utuk pemanasan dan memasak. Namun ia menaikkan gaji pegawai negeri dan personel keamanan.

Inflasi meningkat sebesar 1,5 persen dari 6,1 persen bulan lalu, pengangguran dan kemiskinan merajalela.

Ibrahim Alloush, seorang profesor universitas mengatakan kepada AP bahwa itu bukan soal perubahan wajah atau penggantian satu perdana menteri dengan yang lainnya.

"Kami menuntut perubahan pada bagaimana negara ini dijalankan," ujarnya.

Ia juga menuduh pemerintah memiskinkan kelas pekerja dengan pajak regresif yang memaksa orang miskin untuk membayar pajak dengan porsi lebih tinggi dari pendapatan mereka.

"Inilah yang menyebabkan rakyat melakukan protes di jalan karena mereka tidak memiliki tempat untuk melampiaskan apa yang mereka rasakan melalui jalur hukum," lanjut Alloush. (haninmazaya/arrahmah.com)

0 comments:

Wajah Mubarak di Hari Kelima, Sudah 100 Orang Tewas

Syabab.Com - Gelombang aksi rakyat Mesir untuk menumbangkan Hosni Mubarak terus berlanjut hingga hari kelima. Seorang pengunjuk rasa di Tahrir Square memegang sebuah foto yang menunjukkan coretan bagi wajah Mubarak dan peluru pistol, 29/11/2011 di Kairo. Kerusuhan terburuk dalam sejarah Mesir telah memasuki hari kelima dengan bentrokan baru meletus antara polisi dan pemrotes di beberapa kota di di seluruh negeri.

Dalam sebuah laporan seperti dikabarkan Press TV sedikitnya 100 orang tewas dalam tindakan keras terhadap para demonstran anti pemerintah. Sekitar 2000 lainnya terluka sejak kerusuhan yang dimulai hari Selasa.

Protes anti pemerintah di Mesir terul berlanjut sekalipun pasukan tentara dan tank-tank telah dikerahkan. Jam malah telah diperpanjang di tiga kota yaitu, Kairo, Suez, dan Alexandria di mana aksi unjuk rasa sedang berlangsung.

Seluruh kabinet kini telah mengundurkan diri, namun Presiden Hosni Mubarat telah menolak untuk mundur. Sebaliknya, ia menjanjikan reformasi ekonomi dan politik. Pengunjuk rasa menolak tindakan yang sedikit terlambat itu dan mendesak Presiden sendiri untuk mundur.

Sementara itu tokoh oposisi yang pernah bekerja di PBB Mohammad El Baradei berjanji bahwa protes jalanan akan terus hingga Mubarak mundur. Partai oposisi utama, Ikhwanul Muslimin, menyerukan peralihan kekuasaan secara damai.

Selain itu, ribuan orang di seluruh dunia ikut serta ke jalan-jalan mengekspresikan dukungan mereka bagi para pengunjuk rasa anti pemerintah di Mesir.

Ratusan orang berkumpul di depan Kedubes Mesir di Tokyo, menuntut pemerintah Mesir menghentikan tindakan keras terhadap para demonstran serta Mubarak untuk menerima seruan mundur. Demonstrasi serupa digelar di Arab Saudi, Yunani, Jerman, Perancis, Turki dan Amerika Serikat.

Di Inggris, para aktivis Hizbut Tahrir berkumpul di depan Kedubes Mesir menyerukan solusi Khilafah bagi Mesir. Mereka menegaskan "Perubahan nyata itu di bawah Khilafah".

Sementara Wakil Presiden AS Joe Biden masih mempertahankan Mubarak dan enggan menyebutnya sebagai diktator. "Mubarak telah menjadi sekutu kita dalam sejumlah hal," katanya.

Demikianlah, dunia kini menyaksikan bahwa umat telah bosan dengan para penguasa korup diktator yang telah berteman dengan AS. Umat pun menyaksikan dengan jelas, para penguasa diktator tersebut didukung oleh negara-negara imperialis seperti AS.

Aksi anti-pemerintah di Mesir ini terinspirasi oleh gelombang revolusi di Tunisia yang berhasil menumbangkan diktator Ben Ali, yang juga telah menjadi sekutu AS. Bahkan, ribuan rakyat menyerukan penegakkan Khilafah.

Memang, sekedar pergantian penguasa tidak akan memberikan perubahan nyata jika sistemnya masih mengacu kepada sistem demokrasi warisan Barat. Umat hanya membutuhkan satu perubahan nyata dengan menegakkan Khilafah, sebuah kepemimpinan tulus yang akan menerapkan syariah Allah Swt. serta memberikan kedamaiaan dan kesejahteraan kepada dunia. Insya Allah, semakin dekat! [m/f/prstv/syabab.com]

0 comments:

Revolusi Tunisia dan Prospek 'Revolusi' Islam Indonesia

Akhirnya rezim Tunisia rontok oleh kekuatan umat. Rakyat Tunisia yang sudah muak dengan kepemimpinan sekuler pimpinan Zine El Abidine Ben Ali berhasil menggulingkan rezim tersebut setelah berkuasa selama puluhan tahun lamanya.

Diberitakan bahwa Ben Ali mundur ketika terjadi aksi demonstrasi besar-besaran di Tunis, ibukota Tunisia. Polisi terpaksa membubarkan demonstrasi dengan gas air mata. Sebanyak 13 orang dikabarkan tewas akibat bentrokan dengan aparat atas intuksi pemerintah. Sedangkan aktivis hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 60 orang tewas dalam huru hara tersebut. (kanal internasional online, 14/01).

Revolusi Tunisia inipun tampaknya sudah menjadi virus yang menyebar cepat ke sejumlah negara Arab. Sebagaimana diberitakan rakyat merdeka online, beberapa negara bagian Arab dilaporkan mulai diguncang aksi unjuk rasa me­nentang pemerintahan sah ne­garanya masing-masing. Misalnya di ibukota Yordania, Amman. Sejumlah massa kelom­pok oposisi berorasi sambil ber­pidato di depan para peserta aksi demo. Mereka berteriak lantang, merasakan penderitaan yang sama dengan warga Tunisia. Se­mentara di Yaman, kelompok-ke­lompok mahasiswa turun ke jalan di ibukota negara, Sanaa sambil menyerukan revolusi terhadap para pemimpin Arab yang penuh “tipu daya”.

Di massa kepemimpinannya sejak tahun 1987, Ben Ali berlaku semena-mena terhadap rakyatnya. kehidupan rakyat semakin memburuk, kemiskinan semakin luas, harga-harga kebutuhan pokok semakin meningkat, pengangguran bertambah banyak, khususnya kaum muda. Sementara itu , asset negara terus menumpuk disekitar kroni-kroni Ben Ali, sehingga tak lagi menyisakan bagi kepentingan rakyat. Rakyat benar-benar terkecik dengan segala kebijakan dan penguasaan yang dilakukan oleh rejim tersebut. Ben Ali juga dikenal bertindak sangat represif terhadap para aktivis Islam yang ingin memperjuangkan tegaknya Islam. (eramuslim.com).

Ada dua kubu dalam krisis di Negara yang penduduknya 99% Muslim itu, pertama adalah kubu rezim yang di dukung oleh polisi dan militer. Seperti pada umumnya, pihak militer memang harus mengabdi pada rezim yang sedang berkuasa. Meskipun tidak menutup kemungkinan dalam hati kecil mereka juga tidak menginginkan adanya peristiwa berdarah itu. Itulah kenapa militer seringkali di posisikan sebagai pihak korban instruksi atau korban dari sistem. Sementara itu kubu yang kedua adalah rakyat yang menginginkan tergulingnya rezim.

Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor utama terjadinya perubahan adalah umat. Sedangkan dalam sejarahnya apabila sebuah Negara itu ingin benar-benar berubah adalah dengan jalan perubahan yang bersifat revolusioner. Tidak cukup hanya berganti orang yang berkuasa namun juga harus berganti sistem.

Beberapa peristiwa revolusi di dunia diantaranya: Revolusi disertai kekerasan: Revolusi Perancis (1799 M), revolusi China (1927 M – 1949 M), dan revolusi Indonesia yang membebaskan diri dari cengkeraman penjajah (1945 M). Revolusi tanpa kekerasan: revolusi Iran (1979 M), revolusi Philipina (1986 M), juga Perubahan revolusioner Islam yang dilakukan Rasul Saw dan para sahabat di madinah ketika itu.

Islam sendiri telah mencontohkan ada dua model perubahan, yakni perubahan secara Parsial (islahiyah), ini dilakukan bila sistem Islam masih diterapkan dan kerusakan hanya pada cabang-cabangnya saja. Yang kedua perubahan secara Revolusioner (inqilabiyah), yang ini jika keadaan sudah rusak dari akarnya.

Pertanyaanya mau dibawa kemana Tunisia pasca revolusi?, sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas Muslim tentunya tidak ada pilihan lain kecuali berubah dari Negara sekuler ke Negara Islam, Negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Negara khilafah. Karena hal itu merupakan tuntutan keimanan mereka, disamping itu dapat membuat Negara yang berbatasan dengan Aljazair tersebut menjadi Negara yang maju dan sejahtera. Namun tentu jika ingin menuju ke sistem Islam, haruslah ada dukungan umat, termasuk militer setempat.

Disisi lain, Amerika telah berancang-ancang untuk meyodorkan solusi tersendiri untuk Negara itu. Seperti dilansir wartanews, hal tersebut disampaikan Obama kepada sahabat dekatnya, Presiden Mesir Husni Mubarok, sesaat setelah tergulingnya Rezim Ben Ali.

Indonesia & Tunisia menerapkan sistem sekulerisme

Sejatinya kondisi di Tunisia bisa dikatakan tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh Indonesia yang notabene juga sama-sama berpenduduk mayoritas Muslim ini. Sama-sama menerapkan sistem sekurelisme, sama-sama juga sedang terpuruk kondisi negaranya. Cuma bedanya penguasa di sini lebih mengedepankan soft power untuk ‘menjinakkan’ para aktivis Islam. Maksudnya untuk mengendorkan perjuangan penegakkan ideologi Islam.

Bagi aktivis Islam yang dianggap radikal maka rezim di sini menggandeng/digandeng Amerika serikat dengan ‘war on terrorist’ nya. Tetapi lagi-lagi disayangkan, yang terjadi dilapangan, dalam hal ini Densus 88 sebagai ujung tombaknya seringkali bertindak ngawur, banyak orang-orang yang tidak bersalah dijadikan sasaran. Bahkan disebut-sebut, Densus 88 telah melakukan pelanggaran HAM berat dalam penangana kasus terorisme ini.

Ideologi Islam ternyata juga tidak mati, bahkan semakin tumbuh subur. Akhirnya baru-baru ini juga dimunculkan strategi deradikalisasi untuk mensekulerkan umat Islam di Indonesia. Disisi lain, aktivis Islam yang mencoba berjuang lewat dalam sistem, perlahan-lahan terus ditarik hingga meninggalkan ideologinya.

Jelaslah kedua Negri muslim ini tengah di atur dengan sebuah sistem kufur, sistem buatan manusia yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam. Sebagai muslim, tentu hal ini tidak boleh didiamkan, syariah dan khilafah harus di tegakkan, sekulerisme harus di singkirkan.

Prospek Revolusi Islam Indonesia

Guna menuju revolusi Islam di Indonesia maka harus ada dua faktor penting, pertama: mayoritas masyarakat menginginkan tegaknya ideologi Islam, atau minimal mereka tidak menentangnya. Kedua: pihak-pihak yang memiliki kekuatan riil (militer, tokoh umat, dll) di tengah-tengah umat juga mau untuk menjadi pendukung tegaknya hukum-hukum Allah tersebut.

Kondisi saat ini, menurut hemat penulis, ada tiga kelompok yang berada di tengah-tengah masyarakat. Diantaranya:

1. Kelompok pejuang dan pendukung tegaknya ideologi Islam

2. Kelompok masyarakat netral.

3. Kelompok penentang ideologi Islam.

Kelompok pertama ialah para aktivis dakwah yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita mulianya itu. Mereka terdiri dari individu maupun kelompok Islam (partai/ormas) baik yang konsisten dalam perjuangan maupun tidak. Ditambah masyarakat yang telah memahami bahwa Islam harus ditegakkan dan mereka mendukung perjuangan.

Sementara kelompok kedua merupakan sebagian masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Kelompok ini tidak begitu peduli dengan pertarungan ideologi yang ada disebabkan sebagian besar diantara mereka belum begitu paham jika Islam merupakan sebuah ideologi, dan jika perjuangan penegakkan syariah dan khilafah merupakan konsekwensi akidah mereka.

Sedangkan kelompok ketiga, ini bisa di katakan sebagai penyakit, mereka diantaranya: aktivis liberal, pengemban kapitalisme, pejuang sosialisme, dll. Sejatinya jumlah mereka sangat sedikit, namun seolah-olah berjumlah banyak sebab mereka sering “nyanyi” di media dikarenakan juga didukung oleh sebagian besar media sekuler. Dalam kasus ini sering dilakukan oleh kelompok liberal.

Teruntuk kelompok pejuang sosialisme, mereka sering mengklaim punya massa banyak, yakni kaum buruh, padahal mereka cuma menungganginya dalam rangka para buruh yang ingin memperoleh hak-haknya. Mayoritas kaum buruh adalah masuk kelompok kedua.

Kultur Islam

Kultur masyarakat Indonesia adalah kultur Islam tentunya hal ini sangat kondusif untuk tegaknya Ideologi Islam di Negri ini. Dalam hati kecil mereka begitu mencintai Islam, entah seperti apapun tingkat keimanan mereka. Ada kejadian menarik yang pernah di alami oleh penulis, saat salah seorang preman mengatakan pada penulis “Mas, saya itu orangnya begini, tapi saya akan marah jika Islam dihina dan dilecehkan” (dalam bahasa jawa). Pada kasus lain, di orang yang tidak sama, saat menceritakan peristiwa gempa di Bengkulu dan orangnya kebetulan waktu itu berada disana, mengatakan: “Mas, aku dulu takut sekali saat gempa, yang ada dipikiranku, bahwa aku belum sholat mas”.

Itulah contoh-contoh yang menunjukkan jika sejatinya kultur masyarakat Indonesia adalah kultur Islam. Orang-orang yang seperti ini juga merupakan objek dakwah yang berhak mendapatkan pesan dakwah Islam, karena mereka juga merupakan korban dari sistem sekulerisme yang telah melahirkan banyak generasi yang jauh dari ajarannya. Mereka bagian dari kelompok kedua.

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin belum paham betul tentang Ideologi Islam, namun jika dikatakan bahwa Ideologi Islam itu adalah hukum-hukumnya Allah, dari Allah Swt, maka akan sulit bagi mereka untuk menolak penerapannya. Apalagi bila disampaikan bahwa hukum Allah niscaya membuat Indonesia menjadi maju dan sejahtera.

Potensi Indonesia

Indonesia memiliki potensi yang cukup bagus bilamana khilafah tegak mulai dari negri ini. Setidaknya hal ini di dasarkan dari beberapa pertimbangan:

1. Secara geo-politik dan geografis, Indonesia memiliki wilayah yang luas, jumlah penduduknya sangat banyak, tentaranya juga banyak. Tentu hal ini akan membuat Indonesia dengan pertolongan Allah menjadi Negara yang kuat ketika tegak Ideologi Islam.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa.

Sementara jumlah tentaranya berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2006 dan Jaffa Center of Strategic Studies (JCSS), Indonesia memiliki 316.000 tentara aktif , 400.000 pasukan cadangan, dan 207.000 paramiliter. Tentara-tentara ini tentunya akan menjadi semakin hebat dengan sentuhan akidah Islam, dan bukan nasionalisme. Sekeras apapun mereka, niscaya akan luluh ketika berhasil tersentuh dengan akidah Islam yang mendalam, contohnya adalah Umar bin Al-khatab. Apalagi sebagian besar dari mereka sudah Muslim.

2. Secara geo-ekonomi, Indonesia merupakan Negara ‘zamrud katulistiwa’ yang kaya akan kekayaan alam, tanahnya subur, hutannya luas. Hal ini tentunya menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang strategis untuk tegaknya khilafah Islam. Dalam catatan Dr. Fahmi Amhar (Praktisi Bakosurtanal) bahwa nilai potensi lestari laut Indonesia baik hayati, non hayati, maupun wisata adalah sekitar US$ 82 Milyar atau Rp. 738 Triliun. (Al-Waie, 2010).

Sementara di sektor Migas ada Ada 60 cekungan besar minyak bumi dan gas, serta 11 yang sudah berproduksi yaitu: Cekungan Sumatera Utara, Cekungan Sunda, Cekungan Jawa Timur Laut, Cekungan Bone, Cekungan Kutai, Cekungan Seram, Cekungan Salawati dan Cekungan Bintuni, Cekungan Sibolga (tahap eksplorasi), Cekungan Bengkulu (tahap eksplorasi), Cekungan Jawa Selatan (tahap eksplorasi), Cekungan Bangai (tahap eksplorasi). Dari 11 yang sudah berproduksi dihasilkan minyak bumi sebesar 1,93 miliar barel dan gas bumi sebesar 107,5 TCF. (waspada.co.id 2008).

Kekayaan emas Freeport di papua, cadangan emas dan perak juga terdapat di Delta Kapuas, Kepulauan Riau, Pantai Sukabumi. Dan masih banyak lagi kekayaan alam yang di anugerahkan oleh Allah SWT kepada Indonesia. Namun sayangnya sekarang ini banyak dikuasai oleh segelintir orang, terutama asing karena sistem kapitalisme yang dianut.

Syariah Islam semakin diterima

Seiring waktu berjalan, syariah Islam semakin mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Ada sebuah poling yang cukup mengejutkan dilakukan oleh sebuah lembaga survei yang di monitoring universitas Mariland AS pada tahun 2007, meskipun agak ditutup-tutupi, diantaranya dilakukan di Indonesia dan hasilnya: kebanyakan responden sepakat terhadap penegakkan syariah dan khilafah dengan prosentase 53%, lebih rendah dibandingkan prosentase Negri-Negri Islam lain (Mesir 71%, Pakistan 79%, Maroko 76%).

Hari demi hari syariah Islam Alhamdulillah semakin diterima, tanda-tanda kebengkitan Islam pun sudah tampak di depan mata. Tak heran jika National Intelelligence Council’s (NIC) pernah merilis sebuah laporan yang berjudul Mapping the Global Future. Dalam laporannya itu diprediksikan bahwa akan ada empat skenario besar dunia di tahun 2020, salah satu yang disebutkan adalah A New Chaliphate atau berdirinya kembali khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global.

Demikian juga cukup menarik isi dari sebuah buku karya Mr. Michael Buriyev (Wakil Ketua Parlemen Rusia) yang menyatakan: dunia sedang menuju menjadi 5 negara besar yakni: Rusia, Cina, Khilafah Islam, Konfederasi Dua Amerika, dan India jika India bisa bebas dari cengkraman Islam yang mengurungnya (Pakistan, Bangladesh, Kasmir, Afganistan).

Menuju Khilafah Islam

Barang siapa yang meneliti sirah nabi, maka akan ditemukan bahwa Rasulullah telah melakukan langkah-langkah terarah untuk menuju tegaknya Ideologi Islam.

Pertama, Setelah diangkat menjadi rasul, Beliau mendidik calon-calon kader dakwahnya seperti Abu Bakar Ash-Shidiq, Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Haritsah, dan sahabat yang lain. Mereka digembleng secara terpadu oleh Rasululloh di rumahnya Arqam bin Arqam.

Kedua, para sahabat yang dibina tadi ditugaskan oleh Rasul untuk melakukan dakwah Islam, menggulirkan pergolakan pemikiran, menyadarkan masyarakat yang dahulunya pemikiran, perasaan, tingkah lakunya masih jahiliah diubah menjadi pemikiran, perasaan, dan tingkah laku yang Islami. Masyarakat yang tadinya penyembah berhala, diganti dengan penyembahan hanya kepada Allah semata. Kelompok (hizb) dakwah ini dikomandoi langsung oleh Baginda Rasulullah SAW.

Ketiga, Rasul selaku pemimpin kelompok (hizb) dakwah tersebut juga melakukan aktivitas yang dikenal dengan istilah Thalabun Nushrah (mencari pertolongan) kepada pihak yang mempunyai kekuatan riil (ahlul kuwwah). Beliau pernah mendatangi kabilah-kabilah semacam; Bani Hanifah, Bani Kalb, bahkan Bani Tsaqif di Thoif Rosul sempat dilempari batu oleh penduduk setempat sampai kakinya berdarah-darah. Melalui sikap konsisten Beliau, akhirnya datang juga pertolongan Allah dengan bersedianya suku Aus dan Khazraj menerima pinangan Rasulullah. Sebelumnya mereka telah didakwahi oleh para sahabat.

Alhasil, kelompok (hizb) Rasul yang memotori perubahan tersebut, ditopang oleh masyarakat yang telah terbentuk kesadarannya sehingga menginginkan perubahan ke arah Islam. Mereka hanya mau diatur dengan wahyu bukan yang lainnya, pihak ahlul kuwwah pun juga mendukung tegaknya Ideologi Islam, maka sudah tidak ada yang mampu membendung lahirnya Daulah Islam pertama di Madinah waktu itu.

Selamatkan dengan Syariah

Indonesia, Tunisia, dan negri-negri lain harus di selamatkan dengan Islam. Sistem ini telah menjadikan Raksasa Islam tertidur lelap, dijajah, dan di hinakan oleh Musuh-Musuh Islam.

Karena itu, pembinaan pada umat dengan pemikiran Islam yang Ideologis harus terus digelorakan. Melakukan counter pemikiran atas apa yang disuarakan oleh kaum liberal yang biasa mengatakan Syariah Islam adalah ancaman bagi Indonesia, namun sebaliknya, Islam akan menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Kapitalismelah ancaman yang sebenarnya.

Mesti di jelaskan kepada umat secara keseluruhan, termasuk diantaranya jajaran militer, tokoh masyarakat, juga para intelektual, atas kepalsuan ide-ide selain Islam seperti Kapitalisme, sosialisme, sekulerisme, pluralisme, Liberalisme Dst. Serta melakukan dakwah yang bersifat politis dengan mengajak umat untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena semua ini adalah konsekwensi keimanannya sebagai muslim.

Revolusi di Tunisia paling tidak menunjukkan bahwa kekuatan umat merupakan faktor penting terjadinya perubahan. Mari selamatkan Indonesia dengan Syariah, untuk apa mempertahankan penguasa pembohong dan sistem yang nyata-nyata membuat Indonesia menjadi terpuruk dan bertentangan dengan akidah Islam. Ingatlah bahwa pertolongan Allah itu amat dekat. Wallahu a’lam bi ash-shawab

By: Ali Mustofa

0 comments:

SESAAT SETELAH IRAQ DAN SYAAM (PALESTINA) DIBOIKOT, KHILAFAH SEGERA TEGAK BERDIRI

Bersabda Rasuulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Akan segera tegak berdiri di akhir Ummat-Ku seorang Kholiifah (red. Beberapa saat, setelah pemboikotan itu terjadi),.. Kholiifah akan membagi bagikan harta, dengan tanpa menghitung hitung-jumlahnya".
(Shohih Muslim : 5189)

صحيح مسلم5189 - (ج 14 / ص 126)

. - عَنْ أَبِي نَضْرَةَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ يُوشِكُ أَهْلُ الْعِرَاقِ أَنْ لَا يُجْبَى إِلَيْهِمْ قَفِيزٌ وَلَا دِرْهَمٌ قُلْنَا مِنْ أَيْنَ ذَاكَ قَالَ مِنْ قِبَلِ الْعَجَمِ يَمْنَعُونَ ذَاكَ ثُمَّ قَالَ يُوشِكُ أَهْلُ الشَّأْمِ أَنْ لَا يُجْبَى إِلَيْهِمْ دِينَارٌ وَلَا مُدْيٌ قُلْنَا مِنْ أَيْنَ ذَاكَ قَالَ مِنْ قِبَلِ الرُّومِ ثُمَّ سَكَتَ هُنَيَّةً ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي خَلِيفَةٌ يَحْثِي الْمَالَ حَثْيًا لَا يَعُدُّهُ عَدَدًا

" Dari Abi Nadhrah berkata: "Kami sedang berada bersama Jabir bin Abdullah, rodhiyallahu 'anhuma, dia berkata. (Rasuulullah Saw Bersabda) : "Hampir saja tidak boleh dibawa masuk ke negeri Iraq (diboikot) makanan sepotong roti-pun /(qafizh), diboikot pula masuknya dirham,". Kami lalu bertanya kepada beliau,:"Dari mana (bangsa) yang melakukan demikian ? ' Dia menjawab, : " Orang orang 'Ajam (non Arab. Red. Amerika) yang mem-boikotnya".


Kemudiannya Beliau berkata lagi, " Hampir – hampir saja tidak boleh dibawa masuk sekeping diinar kepada penduduk Syaam, tidak boleh pula dibawa masuk (diboikot) kepada penduduk Syaam se-takar-an makanan pun (mudyun)." Kami bertanya lagi : Dari mana ( bangsa ) yang melakukan demikian ? .. Beliau menjawab : " Dari bangsa Ruum. (Ctt: kita tahu Israel adalah imigran dari Ruum, utamanya dari Eropa, yang datang menjajah Palestine sejak tahun 1917). Kemudian diam sejenak.

Lalu dia berkata, Bersabda Rasuulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : " Akan segera tegak berdiri di akhir Ummat-Ku seorang Kholiifah (red. Beberapa saat, setelah pemboikotan itu terjadi),.. Kholiifah akan membagi bagikan harta, dengan tanpa menghitung hitung-jumlahnya.

(Shohih Muslim : 5189)

0 comments:

Hak Dan Kewajiban Warganegera Non-Muslim Dalam Khilafah Islam

Pengantar

Negara merupakan metamorfosis lanjutan dari suatu mujtama’ (masyarakat) yang memerlukan instrumen berupa UUD (dustûr) undang-undang (qânûn) yang bersifat memaksa dan mengikat bagi kelompok manusia yang hidup bersama dan bekerjasama untuk mewujudkan tercapainya keinginan-keinginan bersama, sehingga keinginan-keinginan tersebut tidak saling bertentangan antara yang satu dengan yang lain.

Oleh karena itu, negara (dawlah) sebagai institusi pelaksana bagi sekumpulan konsep (mafâhîm), kriteria (maqâyis) dan keyakinan (qanâ’ât) yang telah diterima oleh sekelompok manusia (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 6) haruslah mampu menciptakan suasana kehidupan yang aman dan nyaman, sehingga setiap individu-individu warganegaranya benar-benar merasa berada dalam naungan sebuah otoritas (kekuasaan), seperti yang digambarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

إِنَََّ السُّلْطَانَ ظِلُّ اللَّهِ فِي اْلأَرْضِ، يَأْوِي إِلَيْهِ كُلُّ مَظْلُوْمٍ مِنْ عِبَادِهِ

“Sesungguhnya otoritas (kekuasaan) itu merupakan naungan Allah di muka bumi, dimana setiap orang yang terzalimi di antara para hamba-Nya pergi berlindung kepadanya.” (HR. Imam Baihaqi)

Telaah kitab dalam kesempatan kali ini akan mengkaji Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam pasal 5 yang berbunyi: “Setiap warganegara (Khilafah) Islam mendapatkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban sesuai dengan ketentuan syara’.” (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 23).

Muslim Bukan Syarat Warganegara

Tidak seperti ocehan provokatif yang dilontarkan oleh mereka yang membenci Islam dan kaum Muslim, bahwa Negara Khilafah-yang tidak lama lagi akan tegak kembali dengan izin Allah-akan memaksa dan membantai setiap non-Muslim yang ada di wilayahnya. Sungguh, ia merupakan ocehan yang sama sekali tidak bernilai. Sebab, Negara Khilafah tidak mensyaratkan warganegaranya haruslah Muslim, sebagaimana dalam pasal 5 Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam.

Ada dua syarat di mana seseorang dapat dianggap sebagai warganegara Khilafah. Pertama, ia harus menetap di dalam wilayah Negara Khilafah Islam (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 24). Di antara para ulama yang berpendapat demikian adalah Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Ar-Razi, sementara dari kalangan ulama kontemporer di antaranya adalah al-Maududi dan Sayyid Quthub (Tubuliak, al-Ahkâm as-Siyâsiah li al-Aqalliyât al-Muslimah fi al-Fiqh al-Islâmiy, hlm. 151). Kedua, ia harus loyal terhadap negara dan sistem (An-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah, hlm. 142).

Dalil untuk syarat yang pertama, yaitu harus menetap di dalam wilayah Negara Khilafah adalah: Pertama, firman Allah SWT:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah.” (TQS. Al-Anfal [8] : 72)

Sayyid Quthub rahimahullah berkata: “Mereka-yakni orang-orang yang tidak berhijrah-tidak dianggap sebagai anggota masyarakat Islam; dan Allah tidak menjadikan untuk mereka hak mendapatkan pertolongan-apapun bentuknya-dari masyarakat Islam, sebab mereka secara riil bukan bagian dari masyarakat Islam. Dan bagi mereka berlaku firman Allah, “Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka.” (Quthub, Fi Dzilâl al-Qur’an, 3/1.559).

Al-Maududi rahimahullah berkata: “Ayat ini menjelaskan dua asas warganegara: iman dan tinggal di Negara Islam, atau pindah ke Negara Islam. Apabila seseorang beriman, namun ia tidak meningalkan kewarnageraan Negara Kufur, yakni tidak berhijrah ke Negara Islam, dan tidak menetap di Negara Islam, maka ia tidak dianggap sebagai bagian dari rakyat Negara Islam. Adapun orang-orang yang beriman yang menetap di Negara Islam, sama saja apakah ia dilahirkan di Negara Islam, atau ia pindahan dari Negara Kufur, maka mereka dianggap bagian dari rakyat Negara Islam; mereka mendapatkan hak yang sama, serta wajib tolong-menolong dan lindung-melindungi di antara mereka.” (Al-Maududi, Tadwîn ad-Dustûr al-Islamiy, hlm. 56-57).

Kedua, sabda Rasulullah SAW., yang di antara adalah hadits dari Sulaiman bin Buraidah radhiyallahu ‘anhu, yang di dalamnya dituturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

ثُمَّ أُدْعُهُمْ إِلَى التَّحَوّلِ مِنْ دَارِهِمْ الى دَارِالمُهَاجِرِيْنَ و أَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ ما لِلْمُهَاجِرِيْنَ وَ عَلَيْهِمْ مَا عَلَى الْمُهَاجِريْنَ، فَإِنْ أَبَوْا أنْ يَتَحَوَّلُوا مِنْهَا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَأَعْرَابِ الْمُسْلِمِينَ، يَجْرِي عَلَيْهِمْ حُكْمُ اللَّهِ الَّذِي يَجْرِي عَلَى الْمُؤْمِنِينَ. وَلاَ يَكُونُ لَهُمْ فِي الْفَيْءِ وَالْغَنِيمَةِ شَيْءٌ. إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدُوا مَعَ الْمُسْلِمِينَ.

“Serulah mereka berpindah dari negerinya (Darul Kufur) ke Darul Muhajirin (Darul Islam), dan beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka telah melakukan semua itu, maka mereka akan mendapatkan hak yang sama sebagaimana yang dimiliki kaum Muhajirin, dan juga kewajiban yang sama seperti halnya kewajiban kaum Muhajirin; dan jika mereka enggan untuk berpindah, maka sampaikan kepada mereka bahwa status mereka seperti status kaum Muslim yang tidak memiliki tempat tinggal tetap (nomaden); bagi mereka berlaku hukum Allah yang berlaku bagi orang-orang yang beriman, namun mereka tidak berhak mendapatkan ghanîmah dan fai’ sedikitpun, kecuali mereka turut berjihad bersama kaum Muslim.” (HR. Muslim).

Hadits ini dengan jelas menegaskan bahwa siapa saja yang tidak berpindah ke Negara Islam, maka ia tidak dianggap sebagai warganegara Khilafah, akibatnya ia tidak memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama, seperti yang dimiliki oleh warganegara Khilafah Islam, sekalipun ia seorang Muslim (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 24).

Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا بَرِيْءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهَرِ المُشْرِكِيْنَ

“Aku berlepas diri dari seorang Muslim yang tinggal di antara komunitas kaum Musyrik.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW berlepas diri dari seorang Mulism yang hidup di Negara Kufur (Dârul Kufur), yang menjadikan statusnya tidak sama dengan status seorang Muslim yang hidup di Negara Islam (Dârul Islam). Hal ini menunjukkan bahwa seorang Muslim yang hidup di Negara Kufur (Dârul Kufur) bukanlah rakyat Negara Islam (Tubuliak, al-Ahkâm as-Siyâsiah li al-Aqalliyât al-Muslimah fi al-Fiqh al-Islâmiy, hlm. 153).

Sedangkan dalil untuk syarat yang kedua, yaitu harus loyal terhadap negara dan sistem adalah fakta dalam watsîqah (piagam) Madinah, yang kemudian oleh Dr. Hasyim Yahya al-Mallah (2007:41) disebut dengan UUD Madinah (Dustûr al-Madinah), yang di antara isinya (butir ke-11) adalah “Setiap insiden atau perselisihan yang terjadia di antara pemilik piagam ini, yang dikhawatirkan dampak buruknya, maka keputusannya harus diserahkan kepada Allah SWT dan Muhammad SAW.” (Al-Buthi, Fiqh as-Sîrah, hlm. 205). Hal ini menunjukkan bahwa setiap warganegara Muslim dan non Muslim harus tunduk dan loyal dengan negara.

Maka, melalui uraian di atas, Muslim bukanlah syarat untuk menjadi warganegara Khilafah. Sehingga, seorang non-Muslim yang dengan rela tinggal di dalam Negara Islam, serta loyal terhada negara dan sistem, maka ia merupakan bagian dari warganegara Khilafah, yang memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama seperti halnya warganegara Khilafah yang lain dari kaum Muslim. Sebaliknya, seorang Muslim yang menetap di Negara Kufur, maka ia bukan bagian dari warganegara Khilafah, sehingga ia tidak memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti kaum Muslim yang menjadi warganegara Khilafah.

Hak Dan Kewajiban Warganegara non-Muslim

Dalam hukum Islam, warganegara Khilafah yang non-Muslim disebut sebagai dzimmi, yaitu setiap warganegara yang beragama selain Islam. Istilah dzimmi berasal dari kata dzimmah, yang berarti “kewajiban untuk memenuhi perjanjian” (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 24).

Islam menganggap semua orang yang tinggal di Negara Khilafah sebagai warganegara Negara Islam, dan mereka semua berhak memperoleh perlakuan yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi antara Muslim dan dzimmi. Negara harus menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan, akal, kehidupan, dan harta benda mereka.

Warganegara non-Muslim berhak menjalankan keyakinan dan agama mereka; begitu juga dalam hal makanan dan pakaian, warganegara non-Muslim berhak mengikuti aturan agama mereka tentang tata kehidupan publik, selama masih dalam koridor peraturan umum (yakni selama masih dibenarkan oleh syariah Islam); serta berhak melakukan pernikahan dan perceraian di antara mereka berdasarkan ketentuan agama dan keyakinannya (An-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyah, hlm. 145).

Dalil atas ketentuan di atas adalah firman Allah SWT:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (TQS. al-Baqarah [2]: 256)

Ayat tersebut menyatakan bahwa Negara Islam tidak diperbolehkan memaksa orang-orang non-Muslim untuk meninggalkan kepercayaan mereka. Ini terbukti melalui fakta bahwa hingga hari ini masih ada komunitas Yahudi dan Kristen yang tinggal di kawasan Timur Tengah walaupun Negara Islam telah berkuasa di kawasan tersebut selama 1300 tahun.

Sementara, aturan-aturan lain yang digariskan syariah Islam, yang terkait dengan hubungan sosial kemasyarakatan, seperti sistem sanksi, sistem peradilan, sistem pemerintahan, ekonomi, dan lainnya, maka warganegara non-Muslim wajib terikat dengan hukum syariah Islam sama seperti warganegara Muslim (An-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyah, hlm. 146).

Dasar atas ketentuan di atas adalah dalil-dalil umum yang mencakup semua warganegara, Muslim dan non Muslim, seperti perintah menghukum di antara manusia dengan adil (An-Nisa’ [4] : 58); Rasulullah pernah menghukum mati orang Yahudi karena membunuh seorang perempun (HR, Bukhari); Rasulullah pernah merajam laki-laki dan perempuan Yahudi karena keduanya berzina (HR. Bukhari); dan banyak lagi lainnya, yang menunjukkan bahwa dalam hal ini tidak ada bedanya antara warganegara Muslim dan non-Muslim (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 25-26; Radhi, Hizb at-Tahrîr Tsaqâfatuhu wa Manhâjuhu fî Iqâmah Dawlah al-Khilâfah al-Islâmiyah, hlm. 272-273).

Dengan melakukan kajian atas peraturan dan hukum-hukum Islam terhadap warganegara non-Muslim, kita dapat melihat bahwa Negara Khilafah bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti oleh kaum non-Muslim. Khilafah adalah sebuah negara yang akan membawa mereka keluar dari kegelapan dan penindasan sistem kapitalis, menuju cahaya dan keadilan Islam. Perlakuan Khilafah pada warganegara non-Muslim semacam inilah yang kemudian membuat banyak orang memeluk agama Islam. Wallâh a’lam bish shawâb.

Daftar Bacaan

Al-Buthi, Dr. Muhammad Said Ramadhan, Fiqh as-Sîrah Dirâsât Manhajiyah li Sîrah al-Musthafa ‘Alaihis Salam (Beirut: Darul Fikr), 1990.

Al-Mallah, Dr. Hasyim Yahya, Hukûmatur Rasûl SAW Dirâsah Târikhiyah - Dustûriyah Muqâranah (Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah), Ctakan I, 2009.

Al-Maududi, Abul A’la, Tadwîn ad-Dustûr al-Islâmiy, (Beirut: Muassasah ar-Risalah), 1980.

An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Dawlah al-Islâmiyah, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan VII, 2002.

—–, Al-Syakhshiyah al-Islâmiyah, Juz II, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan V, 2003.

—–, Muqaddimah ad-Dustur aw al-Asbâb al-Mujîbah Lahu, Jilid I, (Beirut: Darul Ummah), Cetakan II, 2009.

Quthub, Sayyid Quthub, Fi Dzilâl al-Qur’an, (Beirut: Darusy Syuruq), Cetakan IX, 1980.

Hizbut Tahrir Indonesia, “Perlakuan Negara Khilafah Terhadap Non Muslim,”

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/01/08/perlakuan-negara-khilafah-terhadap-non-muslim/

Radhi, Muhammad Muhsin, Hizb at-Tahrîr Tsaqâfatuhu wa Manhâjuhu fî Iqâmah Dawlah al-Khilâfah al-Islâmiyah (Baghdad: Al-Jami’ah Al-Islamiyah), 2006.

Tubuliak, Sulaiman Muhammad, al-Ahkâm as-Siyâsiah lil Aqalliyât al-Muslimah fi al-Fiqh al-Islâmiy, (Beirut: Darun Nafa’is), Cetakan I, 1997.

0 comments:

Benih-Benih Revolusi Mulai Muncul di Yaman

Seorang pengunjuk rasa anti-pemerintah ditembak mati oleh polisi di Yaman selatan dan 19 aktivis oposisi ditangkap di ibukota pada hari Ahad kemarin (23/1), termasuk seorang wanita terkemuka yang memimpin unjuk rasa menentang presiden pekan lalu.

Penangkapan itu memicu gelombang baru protes mahasiswa di Sanaa pada hari Ahad kemarin, beberapa hari setelah demonstrasi menentang pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh pecah di seluruh Yaman, aksi mereka sebagian terinspirasi oleh penggulingan baru-baru ini terhadap penguasa otoriter Tunisia.

Tawakul Karman, seorang wartawan dan anggota partai Islam Islah yang merupakan seorang tokoh terkemuka dalam protes pekan lalu, ditahan oleh polisi pada hari Ahad kemarin dan didakwa melakukan pengorganisasian demonstrasi melawan hukum, kata suaminya kepada Reuters.

Masih pada hari Ahad kemarin, polisi di Sanaa menangkap 18 aktivis lainnya, termasuk pimpinan dari dua kelompok hak asasi manusia, pada saar mereka meninggalkan rapat untuk membahas penangkapan Karman.

Di kota selatan Aden, tempat protes sering terjadi oleh separatis, seorang demonstran ditembak mati oleh polisi yang mencoba menghentikan aksi mereka, warga mengatakan. Dalam insiden terpisah di kota selatan yang bergolak Lawdar, seorang tersangka kelompok bersenjata al Qaidah diduga menembak mati seorang tentara, seorang pejabat keamanan setempat.

Penangkapan aktivis di ibukota memicu protes ratusan orang di Universitas Sanaa. Para demonstran, meneriakkan "Bebaskan para tahanan" dan poster Karman, mencoba berpawai menuju ke kantor jaksa negara.

Namun polisi anti dengan membawa tongkat memukul mereka kembali. Polisi juga memukuli dua juru kamera TV yang mensuting demo dan menyita kamera mereka, kata seorang saksi mata jkepada Reuters.

"Saya tidak memiliki informasi yang akurat mengenai keberadaannya," kata suami Karman, Muhamad Ismail al-Naehmi melalui telepon. "Mungkin di penjara pusat, mungkin di tempat lain, saya tidak tahu."

Dalam pidato ditayangkan di televisi pemerintah pada hari Ahad kemarin, Saleh menegaskan tawaran dialog dengan kelompok oposisi dan mengatakan sangat salah untuk menghubungkan aksi Yaman untuk peristiwa di Tunisia.

"Kami adalah negara demokratis dan bukan seperti Tunisia yang masjid ditempatkan di bawah pengawasan dan menutup mulut semua orang," katanya.

Dalam sebuah langkah untuk menenangkan ketidakpuasan, Saleh juga mengumumkan rencana untuk menaikkan gaji pegawai pemerintah dan personil militer sebesar $ 47 sampai $ 234 per bulan - bonus yang baik untuk prajurit dan pegawai negeri sipil di negara termiskin dunia Arab itu.

Penggulingan al-Abidine Ben Tunisia Zine Ali mengejutkan dunia Arab dan menghancurkan gambaran orang yang menindas tersebut, penguasa yang didukung tentara yang kebal terhadap ketidakpuasan rakyat.

Pengunjuk rasa di Sanaa pada Ahad kemarin melakukan tuntutan yang sama seperti aksi mereka minggu lalu dalam demonstrasi yang dipimpin oleh Karman.

"Kami menuntut Ali Abdullah Saleh turun, karena kami tidak memiliki pilihan lain," kata Hani al-Jonid, seorang mahasiswa Universitas Sanaa.

Saleh memerintah Yaman selama lebih dari tiga dekade. Pemerintahnya tidak hanya terganggu oleh oleh pemberontakan di utara dan selatan, tetapi juga oleh sayap al Qaidah yang bangkit kembali.

"Yaman telah hancur oleh perang di utara dan pemberontakan di selatan, dan kemiskinan, kelaparan, pengangguran, kebodohan dan penyakit. Situasi ini membuat tidak mungkin bagi kami untuk tetap diam," kata Jonid.

Pekan lalu, Saleh menawarkan reformasi konstitusi yang membatasi masa jabatan presiden masa depan. Namun pengunjuk rasa menganggap tawaran itu belum cukup dan ribuan di selatan berkumpul untuk mengkritik pemerintah.

Yaman sedang berjuang untuk mengangkat dirinya sendiri keluar dari kemiskinan, terganggu oleh penurunan produksi minyak. Lebih dari 40 persen dari 23 juta di negara orang di negara ini hidup dengan penghasilan di bawah $ 2 per hari dan hampir sepertiga menderita kelaparan kronis.

Taufik al-Makhethi, pengunjuk rasa lain, mengatakan pada hari Ahad kemarin bahwa keadaan ekonomi yang mengerikan itu memancing mereka untuk turun ke jalan: "Saya protes hari ini karena pengangguran, karena saya seorang lulusan universitas dan saya sudah menganggur selama enam tahun. " (fq/reu/eramuslim)

0 comments:

Mainkan Lagu Anti-AS, Pianis China Gemparkan Gedung Putih

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Seorang pianis China membuat panas suasana jamuan kenegaraan di Gedung Putih dengan memainkan sebuah lagu yang dikenal anti-Amerika.

Dengan disaksikan Presiden Amerika Serikat dan Presiden China yang ada di antara puluhan orang hadirin, Lang Lang, sang pianis, memainkan lagu My Motherland, lagu tema dari film produksi China mengenai Perang Korea berjudul Battle on Shangangling Mountain.

Lagu itu dijadikan alat propaganda di China selama berpuluh-puluh tahun dan berisi hinaan terhadap orang Amerika yang disebut "serigala" yang akan diburu dan ditembak.

Agaknya Presiden China Hu Jintao dan delegasinya akan mengabaikan rujukan yang ada, meski Barack Obama dan para hadirin Amerika lainnya kala itu tidak.

Saat berbicara setelahnya, Lang Lang tidak meminta maaf atas pemilihan lagunya.

"Memainkan lagu ini dan menyanjung China di hadapan para kepala negara dari seluruh dunia agaknya memberi tahu mereka bahwa negara kami hebat, bahwa rakyat China bersatu, saya merasa amat terhormat dan bangga," katanya.

Penampilan Lang Lang dilakukan pada saat jamuan makan malam kenegaraan untuk Presiden Hu pada saat berkunjung ke AS baru-baru ini.

Lagu itu merujuk pada pertempuran tahun 1952 dalam Perang Korea, saat pasukan China memerangi serangan Amerika dan Korea Selatan di Bukit Segitiga di Kimhwa, Korea Utara.

Empat tahun berselang, peristiwa itu dijadikan film produksi China yang berjudul Battle on Shangangling Mountain yang menceritakan sekelompok pasukan China yang menghalau musuh hingga datang bala bantuan.

Lagu tema utama film itu adalah My Motherland yang dinyanyikan oleh seorang gadis muda untuk para prajurit yang terluka.

Yang menjadikannya kontroversial adalah lirik yang terkandung di dalamnya. Misalnya, "Saat rekan-rekan ada di sini, ada anggur yang enak/Tapi, jika serigala datang/Mereka akan disambut senapan berburu."

"Serigala" yang dimaksud dalam lirik lagu itu adalah Amerika Serikat.

Pertunjukan patriotisme China tersebut menghadirkan reaksi keras dari sebagian warga China. "Orang-orang Amerika itu amat menikmatinya dan tergila-gila dengan melodi yang dimainkan! Amerika benar-benar bodoh!" tulis seorang blogger China.

Yang Jingduan, seorang psikiater yang kini menetap di Philadelphia, menambahkan, "Dimainkannya My Motherland di Gedung Putih akan dianggap sebagai kemenangan propaganda di China."

"Di mata semua rakyat China, hal ini hanya akan dilihat sebagai sebuah penghinaan besar terhadap AS," tambahnya.

"Ini sama saja menghina seseorang di depan mukanya, namun orang itu tak tahu bahwa dia dipermalukan," katanya.

Namun, seorang blogger China lain menuliskan, "Misalkan saja Obama diundang dalam jamuan makan di China, kemudian dia mengundang seorang seniman Amerika yang pernah tampil di China selama bertahun-tahun untuk memainkan lagu perang Amerika melawan China, menurut Anda reaksi macam apa yang akan dikeluarkan pemerintah dan rakyat China?"

Masih belum jelas apakah pemilihan lagu Lang Lang tersebut merupakan pilihannya sendiri.

Saat diwawancarai, Lang Lang mengaku tidak memiliki motivasi apa pun selain kebanggaan nasional.

"Memainkan My Motherland terlintas di benak saya karena saya rasa memainkannya di perjamuan makan di Gedung Putih bisa membantu kami, sebagai rakyat China, untuk merasa amat bangga terhadap diri kami sendiri dan mengekspresikan perasaan kami melalui lagu itu. Menurut saya hal itu khususnya amat baik," katanya.

"Saya juga menyukai nada-nadanya, tiap kali saya mendengarnya, saya merasa tergerak," tambahnya.

Gedung Putih menolak mengomentari pemilihan lagu tersebut. (dn/dm) www.suaramedia.com

0 comments:

"Awal dari Akhir" Rezim Mubarak, Anak dan Isterinya Lari ke Inggris

Syabab.Com - Putera Presiden Mesir telah melarikan diri ke Inggris, menyusul demonstrasi besar-besaran ribuan rakyat di seluruh mesir untuk melawan pemerintah Hosni Mubarak. Beberapa media menyebut ini menjadi "awal dari akhir" rezim Mubarat, sang presiden diktator yang telah banyak melakukan kezhaliman terhadap umat ini.

Anak Mubarak, yang dianggap penggantinya, bersama dengan keluarganya meninggalkan negari yang tengah dilanda protes anti pemerintah di Mesir yang merupakan protes terbesar sejak Mubarak mengambil alih kekuasaan tiga dekade lalu.

Gamal Mubarak, putera presiden berusia 82 tahun, melarikan diri bersama keluarganya termasuk isteri dan putrinya, beberapa surat kabar melaporkan.

Pesawat yang ditumpangi Gamal Mubarak, istri dan putrinya meninggalkan bandara di Kairo barat menuju London, Selasa, situs berbahasa Arab, Akhbar al-Arab melaporkan, Rabu, 26/01/2011.

Selama kepemimpinan Mubarak, berbagai kezhaliman dilakukan, termasuk penangkapan terhadap para penyeru syariah dan khilafah. Mubarak pun terus menerus melayani kepentingan Barat termasuk bergandengantangan dengan Israel.



Namun, beberapa kalangan meyakini pergantian orang saja tidak akan membawa perubahan tanpa disertai perubahan sistem. Umat memang hanya membutuhkan sistem yang kokoh yang berasal dari Tuhan Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Itulah sistem Khilafah yang telah dijanjikan, semakin mendekat. Insya Allah. [m/prstv/sdk/syabab.com]

0 comments:

Menyusul Revolusi Mesir: Diktator Rezim Mubarak Siap Tumbang!

Syabab.Com - Rakyat rupanya telah bosan dengan kediktatoran rezim sekuler yang selama ini mencengkram mereka. Terilhami 'revolusi' di Tunisia yang menjungkalkan rezim Ben Ali, ribuan rakyat di Mesir berkumpul di Lapangan Tahrir, Kairo menyatakan penentangan mereka terhadap penyiksaan, kemiskinan, korupsi dan pengagguran yang terjadi di negeri tersebut.

Banyak warga Mesir yang melakukan unjukrasa mencoba bertahan di pusat Kairo hingga Selasa malam. Ribuan warga yang ikut dalam proses tersebut berjanji untuk tetap turun ke jalan hingga pemerintah tumbang.

Akhbar al-Arab melaporkan sekitar 30.000 orang berkumpul di Tahrir Square untuk menumbangkan rezim pemerintah Mubarak. Tiga orang telah menjadi korban dalam aksi anti pemerintah yang berlangsung di seluruh Mesir.

Rakyat kini menampakkan kemarahan mereka terhadap rezim zhalim tersebut. Mereka tidak takut apapun. Salah seorang pengunjuk rasa, Tareq el-Shabasi, 43 tahun mengatakan, "Saya datang kemari dengan kesediaan untuk mati, saya tidak takut apa-apa."

Mereka juga meneriakkan yel-yel, "Ambruklah Mubarak." sebagian yel-yel juga ditujukan kepada Gamal, puter Presiden yang sedang dipersiapkan menggantikan ayahnya di kursi presiden. "Gamal beritahu ayahmu bangsa Mesir benci kami," teriak masa.

Aksi demonstrasi jarang terjadi di Mesir, karena pemerintah Presiden Hosni Mubarak yang mulai berkuasa sejak 1981 sangat membatasi suara-suara yang menentang.

Bahkan, rezim Mubarak kerap kali menangkapi lawan politiknya seperti para aktivis Ikhwanul Muslimin termasuk juga para pengemban dakwah yang menyerukan Syariah dan Khilafah seperti para pengamban dakwah Hizbut Tahrir.

Rezim Mubarak telah dikenal kediktatoran dan dukungannya terhadap Barat, bahkan terhadap Israel sekalipun yang telah mencaplok negeri Muslim Palestina.

Terkait pengepungan Gaza, penguasa Mesir, Husni Mubarak, tetap enggan membuka satu-satunya pintu masuk ke Gaza, yakni pintu Rafah yang berada dalam kekuasaan Mesir. Rezim Mesir itu tetap tuli dan diam seribu bahasa, sembari dengan tenang dan santainya menyaksikan warga Gaza mati secara perlahan karena blokade dan kekejian Israel.

Namun, jika saja Mubarak jatuh dan digantikan penguasa lainnya, selama sistem yang diterapkan sekularisme kapitalisme tidak akan pernah memberikan kebaikan apa pun. Umat hanya membutuhkan perubahan nyata di bawah naungan Khilafah Rasyidah, satu-satunya institusi yang menerapkan Islam dan menyatukan seluruh negeri Muslim di dunia. Insya Allah, semakin dekat! [m/bbc/syabab.com]

0 comments:

Ikhwan Ancam Mubarak: “Reformasi Atau Penggulingan Seperti Tunisia”

Ikhwanul Muslimin, kekuatan oposisi terbesar Mesir, pada hari Rabu (19/1), memperingatkan rezim Presiden Hosni Mubarak bahwa “Jika tidak bergerak cepat melakukan reformasi, maka stabilitas tidak akan bertahan lama.” Dikatakan bahwa faktor yang memicu pengguligan rezim Tunisia juga ada di Mesir.

Ikhwan mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Intifada Tunisia merupakan sebuah pesan bagi semua orang yang tertindas dan sabar bahwa mereka bisa bebrbuat banyak, tidak selamnya lemah,” dan “pesan bagi para penguasa yang zalim dan rezim yang korup bahwa mereka tidak selamanya aman, dan mereka sedang berada di atas gunung berapi kemarahan rakyat.”

Pernyataan itu menambahkan: “Kita dapat mengatakan dengan penuh keyakinan dan kepastian bahwa alasan dan motif yang menyebabkan penggulingan yang diberkati di Tunisia telah ada di banyak negara, khususnya di negeri kami, Mesir.”

Ikhwan menekankan bahwa “Rezim yang berkuasa di negara ini, dibandingkan dengan yang lainnya, memiliki lebih banyak kemampuan untuk melakukan reformasi dan berubahan jika ia punya kemauan dan keinginan.”

Ikhwan memperingatkan bahwa “Jika rezim tidak bergerak cepat untuk memikul tanggung jawab dan mengambil inisiatif guna memulai proses reformasi secara serius, maka stabilitas tidak akan bertahan lama.”

Ikhwan mengatakan bahwa untuk menghindari “dampak kemarahan yang terjadinya tidak diperhitungkan,” maka Ikhwan menuntut serangkaian tindakan, termasuk “penghapusan keadaan darurat” yang diberlakukan di negara selama hampir 30 tahun; pembubaran Dewan Rakyat palsu, dan penyelenggaraan pemilu yang bersih, bebas dan adil; amandemen konstitusional untuk menjamin kebebasan pencalonan dalam pemilihan presiden yang dijadwalkan September mendatang; dan juga segera melakuan peninjauan kembali kebijakan luar negeri Mesir, terutama terhadap Zionis, dan keharusan untuk memutus hubungan dengannya, dengan mendukung jihad warga Palestina, yang dipimpin oleh Hamas untuk membebaskan tanah Palestina, tanah Arab dan Islam, dan pembentukan negara Palestina dengan ibukota Al-Quds.

Pihak oposisi Mesir menegaskan bahwa Majelis Rakyat sekarang hasil pemilihan yang berlangsung November lalu dipenuhi dicurangi dalam skala besar, sehingga legitimasi Parlemen masih dipertanyakan.

Pihak oposisi Mesir sejak beberapa tahun yang lalu telah menuntut sebuah amandemen konstitusi yang secara khusus memberi kesempatan untuk pencalonan independen pada pemilihan presiden, di mana hal itu hampir tidak mungkin dengan persayaratan yang ditetapkan dalam konstitusi sekarang.

Namun Presiden Mesir Hosni Mubarak, yang pada bulan September mendatang ia telah sempurna berkuasa selama 30 tahun, belum mengumumkan apakah ia berencana mencalonkan dirinya atau tidak untuk jabatan keenam kalinya selama enam tahun ke depan. Begitu juga dengan putranya, Gamal Mubarak, niatnya masik diliputi teka-teki, meskipun spekulasi telah beredar tentang keinginannya untuk menggantikan ayahnya (islamtoday.net, 19/1/2011).

0 comments:

Obama Peringatkan Mubarak: Awas! Nasibmu Akan Seperti Ben Ali

Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama mengkhawatirkan mitra dekatnya di kawasan, Hosni Mubarak, Presiden Mesir akan bernasib sama dengan Presiden terguling Tunisia Zine El Abidine Ben Ali. Kepada Mubarak, Obama berkata, tidak ada jaminan jika revolusi rakyat Tunisia tidak akan merembet ke Mesir.

Berbeda dengan statemen Gedung Putih terkait dialog telepon antara Obama dan Mubarak, sebuah sumber terpercaya AS menyatakan bahwa tujuan Obama menghubungi sejawatnya dari Mesir adalah menegur Mubarak karena lalai menjalankan program reformasi dan memerangi korupsi di negaranya. Obama menyebut hasil pemilu terbaru di Mesir dibarengi dengan meningkatkan pesimisme kalangan muda terkait kecurangan di pemilu legislatif.

Sementara itu, statemen Gedung Putih menyebutkan dialog antara Obama dan Mubarak seputar kondisi Tunisia dan vonis pertama Pengadilan Khusus Lebanon (STL). Obama mengharap pemerintahan transisi Tunisia mampu menerapkan prinsip-prinsip utama Hak Asasi Manusia serta menggelar pemilu yang bebas dan bersih.

Menurut sumber ini, Gedung Putih serius memonitoring perkembangan di Kairo mengingat Mesir mitra utama Washington di Timur Tengah. Berbagai berita dari Mesir khususnya aksi membakar diri empat warga negara ini dalam dua hari lalu dan seruan kubu penentang pemerintah Kairo untuk menggelar aksi demo besar-besaran pada 25 Januari membuat Washington khawatir. Apalagi kini juga merebak tuntutan pengunduran diri Mubarak.

Sumber ini menambahkan, menyusul revolusi rakyat Tunisia yang berhasil menggulingkan pemerintahan berkuasa Ben Ali, Washington kian khawatir masa depan mitra-mitranya di kawasan. Kekhawatiran ini dipicu oleh cepatnya proses runtuhnya pemerintahan Zine El Abidine Ben Ali yang tidak disangka-sangka Barat. (IRIB, 19/1/2011)

0 comments:

Unjuk Rasa Anti Amerika Digelar di Pakistan

Lebih dari 2.000 orang demonstran di kota Miranshah pada Jumat (21/1) menuntut Washington dan badan intelijen AS CIA untuk bertanggung jawab atas meningkatnya kematian warga sipil di Pakistan.

Mereka menyerukan agar segera mengakhiri serangan rudal AS di wilayah Waziristan Utara di sepanjang perbatasan Afghanistan.

Waziristan Utara dan daerah suku lainnya di Pakistan barat laut telah sering menjadi sasaran serangan pesawat AS selama beberapa tahun terakhir.

Para peserta meneriakkan slogan-slogan anti-AS dan membakar patung Presiden AS Barack Obama.

“Pembunuh, pembunuh, CIA pembunuh”, “Hentikan serangan udara” dan “Teman Amerika adalah pengkhianat,” teriak massa aksi.

Serangan udara, yang diprakarsai oleh mantan Presiden AS George W. Bush, telah meningkat semenjak di bawah pemerintahan Obama.

Pada tahun 2010, tidak serangan udara AS meningkat dua kali lipat dan sedikitnya 1200 orang meninggal dalam 124 serangan udara tersebut.

Washington mengklaim bahwa serangan udara ditujukan pada militan, namun sebagian besar korban serangan merupakan warga sipil.

Menurut sumber-sumber Pakistan, serangan udara membunuh hampir 50 warga sipil untuk setiap seorang militan yang mereka targetkan — ketepatan sasaran hanya mencapai 2 persen.

Isu korban sipil telah merenggangkan hubungan antara Islamabad dan Washington sebagaimana pemerintah Pakistan berulang kali keberatan terhadap serangan tersebut.

Meningkatnya jumlah korban sipil yang tewas telah memicu sentimen anti-Amerika di Pakistan dengan Islamabad mengutuk serangan, dengan alasan bahwa mereka melanggar kedaulatan negara. (mediaumat.com, 22/1/2011)

0 comments:

Gaji Presiden ‘Mandek’, Harta Kekayaannya Bertambah

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ‘curhat’ soal kondisi gajinya yang tak naik selama tujuh tahun memimpin Indonesia. Gaji Presiden saat ini mencapai lebih dari Rp 62 juta per bulan dan segala fasilitasnya dipenuhi oleh negara

Meski nominal gajinya mandek, namun jumlah harta Presiden bertambah. Hal ini bisa dilihat dari laporan harta kekayaan Presiden yang dilaporkan tiap tahun ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Saat melaporkan hartanya ke KPK 5 Maret 2010, total harta kekayaan Presiden posisi per tanggal 23 November 2009 mencapai Rp 7,6 miliar dan 269.730 dolar AS. Jumlah ini naik tipis dari posisi per 14 Mei 2009 yang sebesar Rp 6,8 miliar dan 246.389 dolar AS.

“Ini tradisi politik yang baik dan diharapkan rakyat kita. Pimpinan KPK dan saya bersepakat dan ini arahan saya pada para pejabat pemerintah, termasuk gubernur, bupati, dan walikota juga bisa mengumumkan harta kekayaan kepada rakyat,” ujar Presiden saat itu.
Berikut Ringkasan LHKPN Presiden:

23 November 2009: Rp 7.616.270.204 dan 269.730 dolar AS.

14 Mei 2009: Rp 6.848.049.611 dan 246.389 dolar AS.

Rincian harta kekayaan posisi 23 November 2009 terdiri atas:

A. Harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan: Rp 2.408.620.000

B. Harta bergerak (alat transportasi): Rp 502.500.000

C. Peternakan, pertanian, perikanan, dan usaha lainnya: nihil

D. Harta bergerak lainnya (logam mulia, batu mulia, barang seni, dan benda bergerak): Rp 851.015.000

E. Surat berharga: nihil.

F. Giro dan setara kas Rp 3.854.135.204

Ket: Piutang nihil, hutang nihil.

Sumber: republika.co.id (21/1/2011)

0 comments:

Seruan Khilafah di tengah Krisis Tunisia

Seruan khilafah menggema saat krisis Tunia. Meskipun nyaris tidak diekspos oleh media asing, sebuah video menunjukkan diantara para demonstran saat krisis Tunisia terdapat sekelompok umat Islam yang menyerukan Khilafah (lihat : www.hizb.org.uk). Sebelum pawai dimulai , pembicara utama mengingatkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan Muslim untuk tidak merusak pohon bahkan dalam kondisi perang, Islam juga melarang merusakan barang-barang milik orang lain. Terdapat seruan yang tegas menyerukan perjuangan non kekerasan yang berdasarkan Islam.

Beberapa slogan disuarakan dengan tegas oleh para demonstran “Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan lain! Khilafah adalah satu-satunya solusi “, “Dengan jiwa kita, dengan darah kita, kita siap berkorban untuk Islam “. Hal ini menunjukkan para demonstran siap menghadapi petugas keamanan dengan keyakinan mereka.

Saat Berdiri di depan tentara Tunisia mereka pun berpidato : “Wahai tentara muslim, dimana anda di Palestina ? Dimana anda di Irak ? Lepaskanlah rantai penguasa yang membelengu leher anda ! Hai pasukan Muslim, kami siap bersama anda, dengan darah , jiwa , dan anak-anak kami! Hapuskan rezim yang menindas dan dukunglah pemimpin yang satu untuk semua kaum muslimin”

Bukan Hal yang Asing

Khilafah bukanlah hal asing bagi masyarakat Tunisia yang mayoritas Islam. Kejayaan wilayah Tunisia justru terjadi di masa Khilafah. Tentara Muslim di bawah komando Uqba bin Nafi untuk pertama kalinya melakukan ekspedisi futuhat ke wilayah Maghrib pada 670 M. Lima tahun kemudian, pasukan tentara Islam membangun basis pertahanan dan sebuah masjid pertama di kota Kairouan. Pasukan tentara Muslim yang dipimpin Hasan bin Al-Nu’man mampu menguasai kota Tunis dan seluruh wilayah Maghrib pada 705 M.

Puncak kejayaan kota Tunis berlangsung di era kekuasaan Dinasti Hafsiah. Pada masa itu, di Tunis berdiri sebuah perguruan tinggi pertama di Afrika Utara. Di awal abad ke-13 M, Tunis sebuah kota yang berada di wilayah Maghrib mencapai puncak kejayaannya. Ibu kota kekhalifahan Muslim di bagian Utara ‘benua hitam’ itu, sempat menjelma sebagai metropolis kaya raya. Kemajuan yang dicapai Tunis dalam bidang ekonomi, kebudayaan, intelektual, serta sosial tak ada yang mampu menandinginya pada era itu.

Tunis merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam di Afrika. Betapa tidak. Dari kota inilah ajaran Islam bisa menyebar hingga ke Siciliasebuah provinsi otonom di Italia. Pamornya semakin berkilau seiring berdirinya madrasah Al-Zaituna di kota ituperguruan tinggi pertama di Afrika Utara. Tunis telah melahirkan seorang ilmuwan Muslim terkemuka sepanjang masa, Ibnu Khaldun.

Pada era kejayaan Almohad, ilmu pengetahuan berkembang pesat di wilayah Maghrib. Salah seorang sarjana terkemuka pada era itu, Abu Yusuf Yakub, membangun sejumlah perpustakaan di Tunis dan wilayah Maghrib lainnya. Dinasti ini juga mendukung aktivitas para sarjana Muslim, seperti Ibnu Tufail dan Ibnu Rushd untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Salah satu arsitektur peninggalan dinasti ini adalah bangunan Giralda of Seville.

Tunis pun menjadi kota yang berpengaruh. Kota itu berkembang menjadi kota perdagangan dan ilmu pengetahuan. Para pedagang dari Venesia dan berbagai belahan dunia lainnya datang ke Tunis untuk berniaga.Kemakmuran yang dicapai kota Tunis masih dapat disaksikan pada abad akhir awal abad ke-16 M. Seorang pelaut dari Turki, Pipi Reis, dalam catatan perjalanannya melukiskan kemegahan dan keindahan kota itu. Menurut Reis, di kota itu berdiri sekitar 5.000 rumah yang gaya arsitekturnya meniru istana kerajaan. Sepanjang kota itu dihiasi dengan kebun dan taman nan indah. (FW dari berbagai sumber) http://hizbut-tahrir.or.id/

0 comments:

AS Kucurkan US $100.000 Untuk Perkuat Agen-agennya di Indonesia Melalui Jaringan Sosial

Syabab.Com - Akhirnya rencana Amerika Serikat untuk memperkuat penjajahannya di negeri Muslim terbesar ini terungkap. Banyak para blogger dan pengguna facebook tertipu sehingga menjadi pengikut AS, negara penjajah di abad ini. Baru-baru ini WikiLeaks kembali membeberkan rencana licik AS untuk mempengaruhi pandangan masyarakat Indonesia, terutama generasi muda terhadap AS.

Dalam dokumen bernomor UNCLAS JAKARTA 000186, disebutkan Kedubes AS meminta dana 100 ribu dolar AS untuk meningkatkan pengaruh Kedubes AS ke generasi muda lewat jejaring sosial di internet.

Tidak aneh, bila selama beberapa waktu terakhir, terutama saat Obama berkunjung di Indonesia, promosi Obama dan kedubes AS menghiasi beberapa media, termasuk laman internet.

Aksi penolakkan Obama yang dilakukan oleh kaum Muslim, mulai dari para ulama hingga para intelektual Muslim pun nyaris tidak dilirik oleh media-media. Kini dapat dimengerti, bahwa dolar telah menyulap kejahatan Obama yang telah membunuh kaum Muslim di Irak, Afghanistan dan Pakistan tersebut seolah ibarat pahlawan.

Seperti terungkap dalam sebuah kawat pembocor rahasia WikiLeaks, tertanggal 12 Februari 2010 dari Kedubes AS di Jakarta kepada pejabat Kemlu AS Jared Cohen, mengungkap strategi AS memanfaatkan media sosial di Indonesia demi kepentingan AS.

“Kedubes AS Jakarta meminta tambahan dana segera untuk menggunakan media baru dan jejaring sosial untuk memaksimalkan raihan online untuk kunjungan Presiden AS yang dijadwalkan akhir Maret 2010,” demikian bagian ringkasan kawat tersebut.

Dana yang dimintakan ini besarnya US$ 100.000 atau sekitar Rp 900 juta. “Kami meminta US$ 100.000 dalam pendanaan dari R untuk mendorong keanggotaan fans Facebook kami menjadi 1 juta orang, dan dapat mencapainya dalam 30 hari,” demikian permintaan mereka.

Uang sebanyak ini rencananya akan digunakan untuk tiga area. Yang pertama adalah untuk iklan sebesar US$ 60.000.

Strategi berikutnya adalah dengan Golden Ticket via facebbook sebesar US$ 15.000, yakni memberkan kesempatan kepada orang Indonesia yang beruntung untuk bertemu Presiden Negara Penjajah AS itu, Barack Obama saat berkunjung ke Indonesia.

“Menggunakan platform social media untuk menghubungkan fans dengan kunjungan Obama, juga membangun kegembiraan sebelum kunjungan dan tindak lanjut setelah kunjungan. Sebagai tambahan, kita bisa berpartner dengan stasiun TV lokal untuk acara finalis dan meningkatkan peliputan. Jika Gedung Putih tidak setuju, alternatifnya adalah ‘hadiah impian’ berupa jalan-jalan edukatif ke AS,” jelas mereka.

Tidak aneh, jika masyarakat di negeri ini, disuguhi liputan berulang yang membosankan tentang pemenang impian jalan-jalan ke AS tersebut di salah satu stasiun televisi yang pastinya telah dibayar.

Selain itu, strategi AS lainnya adalah tim media baru dari Kedubes AS yang akan dibantu pakar pemasaran digital. Tujuannya agar dua strategi sebelumnya bisa segera berjalan dengan waktu yang terbatas. Biayanya sebesar US$ 25.000.

Bila demikian adanya, sangat jelas sekali AS berupaya menutupi kejahatannya atas kaum Muslim di Irak, Afghanistan dan Pakistan serta dukungan jahatnya atas penjajah Israel yang telah mencaplok negeri Palestina. Betapa tertipunya, sebagian anak negeri malah bertepuk tangan menyambut tangan Obama yang masih mengalir darah kaum Muslim.

Sebesar apa pun dana yang dikerahkan oleh AS dan antek-anteknya, tidak akan menghentikan rencana Allah Swt Yang Mahakuasa. Kaum Muslim yang beriman tidak akan tertipu oleh kilauan dana. Buktinya, jutaan kaum Muslim menolak kehadiran Obama, sekalipun media tidak meliputnya. Apakah anda termasuk pengikut AS atau pengikut Nabi Muhammad Saw?

Sungguh merupakan kehinaan bila sebagian masyarakat di negeri ini ikut serta bersama permainan AS yang telah nyata-nyata membunuhi kaum Muslim hampir setiap hari. Sudah saatnya, kaum Muslim termasuk generasi mudanya bangkit meraih kembali kemuliaan dengan Islam, Syariah dan Khilafah. Insya Allah, Islam akan mendominasi dunia, tidak akan lama lagi! [m/guardian/dtknws/syabab.com]

0 comments: